21 Mei 2011

Mengkritik Atasan, Haruskah Takut?

"SAYA tak punya hak untuk melakukan hal itu. Saya bisa dipecat!"

Kalimat itu diucapkan dengan nada tinggi oleh Herman, Asisten Manager TI sebuah perusahaan operator seluler, menjelaskan betapa di tempatnya bekerja, tidak ada kemungkinan untuk melontarkan kritik kepada atasan.

Saat itu Herman sedang berbincang dengan rekannya, Herdin, seorang wartawan sebuah surat kabar harian nasional, di sebuah kafe di Jakarta.

Kepada Herdin, meluncurlah curahan hati Herman, yang bercerita bahwa manajernya adalah seorang atasan yang sama sekali tidak mau menerima kritik bawahannya.

"Bahkan, dulu ada seorang teknisi kami yang berani mengkritik manajerku. Hasilnya, bukannya mau menerima kritik, sang teknisi malah dimarahi habis-habisan," keluh Herman.

Herman melanjutkan cerita, sang manajer tidak bisa melupakan peristiwa itu, dan menganggap si teknisi sudah kurang ajar. "Setiap hari si teknisi itu ditekan oleh manajerku, dicari-cari kesalahannya. Akhirnya si teknisi tidak tahan dan memutuskan untuk mengundurkan diri."

Berbeda dengan Herman, Herdin bercerita bahwa di tempatnya bekerja, budaya kritik sudah menjadi kebiasaan. "Untuk kepentingan sebuah berita yang bermutu, imbang, dan dapat dipertanggungjawabkan, tukar pendapat, perdebatan, dan kritik membangun bukan sesuatu yang diharamkan. Bahkan dari bawahan terhadap atasan sekalipun."

***

Kritik, memang sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Sebab tidak semua orang mau dikritik. Apalagi jika yang melontarkan kritik itu secara struktur organisasi berada di level yang lebih bawah.

Biasanya, orang akan segera bersikaf defensif dalam menerima kritik, dan beranggapan bahwa si pemberi kritik mengada-ada dan tidak menyukainya.

Memang, kritik seperti pisau bermata dua. Kritik ada yang berupa sebuah saran yang membangun meski disampaikan secara keras, ada juga yang berasal dari kedengkian, sehingga kedengaran 'nyinyir'.

Tetapi idealnya, demi kemajuan, seseorang harus lapang dada sehingga mampu menerima kritik, demi memperbaiki diri dan kinerjanya. Karena menurut Hendrie Weisinger dan Norman M Lobsenz dalam buku Nobody's Perfect: How to Give Criticism and Get Results, kritik sangat diperlukan bagi pertumbuhan individu maupun kemajuan perusahaan.

Dalam buku itu diberi beberapa contoh, perusahaan sukses yang sejak awal menumbuhkan budaya kritik, termasuk dari bawahan kepada atasan, misalnya perusahaan besar dari Jepang, Matsushita. Pendiri dan pemilik perusahaan, Konosuke Matsushita, sejak awal menggariskan kebijakan yang menekankan pentingnya kritik sebagai suatu bentuk disiplin diri, yang diperlukan bagi pertumbuhan setiap individu maupun pertumbuhan perusahaan.

Konosuke tidak membatasi kepada siapa kritik diberikan. Bawahan pun bebas mengeluarkan kritik kepada atasannya. Hasilnya, Matsushita tumbuh menjadi perusahaan elektronik dan alat berat papan atas. Produknya tidak hanya beredar di negaranya, tetapi ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kiat agar Atasan tidak Tersinggung

MUNGKIN Anda juga berpendapat bahwa ada hal-hal yang bisa diperbaiki di perusahaan Anda. Tetapi Anda kurang yakin bagaimana kritik itu akan ditanggapi oleh atasan. Jangan-jangan atasan malah berang, kemudian membahayakan karier Anda. Berikut beberapa pedoman cara mengkritik atasan.

1. Ketahui dan pertimbangkan dengan baik, bahwa memang tepat dan beralasan, Anda mengkritik atasan. Anda harus mempunyai garis komunikasi langsung dengannya. Atasan yang Anda kritik itu haruslah yang mempunyai pekerjaan yang memengaruhi pekerjaan Anda atau anak buah Anda. Adalah kurang tepat mengkritik atasan yang keputusan dan tindakannnya tidak memengaruhi Anda.

2. Jangan melontarkan kritik dengan kasar dan keras. Kemas kritik dengan bahasa sehalus mungkin. Atasan adalah atasan. Ia mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari Anda. Kritik yang kasar dan bersifat menyerang cenderung menimbulkan pertarungan kekuasaan, dan membuat atasan Anda semakin ngotot untuk mempertahankan posisinya dengan menekan Anda. Isi kritik menjadi sia-sia.

3. Lontarkan kritik seringkas mungkin, disertai dengan beberapa usul pemecahan. Uraikan secara ringkas situasi yang menurut Anda perlu diubah, dan lontarkan kritik sebagai suatu alternatif yang produktif.

4. Bangunlah keabsahan dari kritik Anda. Siapkan argumen-argumen yang memperkuat kritik Anda. Sajikanlah keterangan dari sumber yang objektif dan bisa dipercaya. Dengan menyampaikan kritik sebagai informasi, berarti Anda menunjukkan ingin mencari kebaikan bersama.

5. Minta bantuan atasan untuk memecahkan persoalan yang Anda hadapkan kepadanya.Ini taktik supaya terkesan Anda sedang tidak mengkritik dia (atasan). Dengan membawa persoalan menjadi tanggung jawab bersama, Anda membuat atasan menjadi sekutu. Contohnya, jika atasan Anda selalu terlambat menyajikan data yang dibutuhkan departemen, Anda bisa mengatakan, "Saya mendapat kesukaran menjalankan departemen ini bila data yang saya perlukan tidak masuk tepat pada waktunya. Apakah Anda punya saran untuk mengatasi hal ini?"
(sumber : mediaindo.co.id)

0 comments: