Sudah ketiga kali saya terpaksa meminta bantuan orang lain untuk menyampaikan apa yang menjadi gagasan atau pemikiran saya kepada kelompok. Mengapa? Karena setiap kali mencoba untuk menguraikan usulan saya, ada kesan mereka tidak mendukung atau kadang-kadang tidak menggubris sama sekali. Herannya, kalau usulan atau rencana saya itu disampaikan oleh orang lain bisa mendapat tanggapan atau persetujuan. Sering saya berpikir, apa dosa saya?” Begitu kira-kira keluhan yang disampaikan Hendra. Ia juga pernah merasa tidak dianggap oleh atasannya ketika mengajukan usulan sebagai jalan keluar terhadap masalah yang dialami unit kerjanya. Atasannya lebih memilih menerapkan saran dari salah satu rekan kerjanya, yang intinya sama saja dengan yang diajukannya.”
Mungkin di antara kita juga pernah mengalami hal yang sama, yaitu merasa kurang dipercaya atau kurang diandalkan oleh sekitar kita. Dalam keluarga, bisa terjadi ibu atau ayah lebih mengandalkan si bungsu ketimbang si sulung jika membutuhkan bantuan waktu, tenaga maupun pikiran. Akibatnya si sulung merasa tidak dipercaya. Seorang ibu peserta diskusi dalam sebuah kegiatan pelatihan juga pernah mengeluh. Ia membandingkan “nasib” dirinya di rumah dengan “nasib” suaminya. Menurut ibu tersebut, anak-anak lebih percaya dan lebih menuruti apa kata ayahnya dari pada apa yang dikatakan ibunya.
"Saya sering sedih bercampur jengkel karena tidak dipercaya oleh mereka. Apa saya mi terlalu hodoh di mata mereka? Kalau saya pikir-pikir saya kan lebih kenal anak-anak. Saya tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk mereka. Tapi kalau saya memulai pembicaraan yang meminta supaya mereka sebaiknya begini atau begitu, seakan-akan pembicaraan saya di-cuek-in, lewat begitu saja. Saya sedih sekali," katanya.
Percaya Diri
Merasa kurang dipercaya, di satu sisi dapat membuat seseorang jadi kurang yakin diri, menyalahkan diri sendiri, merasa lemah, ragu-ragu dan akhirnya kurang berani bertindak.
Di sisi lain, pada orang yang berbeda dalam kondisi yang sama, reaksinya bisa lain lagi. Mereka bisa agresif dengan tetap melakukan apa yang menjadi gagasannya, kurang mempedulikan mereka yang tidak mempercayainya, atau bahkan mencoba menentang lingkungan.
Orang-orang seperti ini bukan tidak merasa kecewa terhadap keadaan yang dialaminya, hanya saja cara mereka mengatasi kekecewaaan berbeda. Orang-orang seperti ini biasanya punya keyakinan terlalu besar pada dirinya, sehingga kurang peduli pada reaksi orang lain.
Tidak Seketika
Kalau melihat dari sisi cara mereka bereaksi, baik yang cenderung menyalahkan diri sendiri maupun yang tidak peduli lingkungan, keduanya adalah cara-cara bereaksi yang tidak tepat. Bagaimana pun merasa tidak mendapatkan kepercayaan lingkungan adalah satu kondisi psikologis yang tidak nyaman, kalau tidak boleh dikatakan tidak sehat’.
Merasa tidak dipercaya tidak datang begitu saja. Anggapan dan perasaan ini berkembang melalui lebih dari satu peristiwa yang berturut-turut dialami dan dirasakan melalui kegiatan interaksi dengan orang-orang lain di lingkungan.
Kalau melalui beberapa peristiwa, apa yang menjadi ungkapan pemikiran, gagasan atau saran-saran seseorang tidak mendapat tanggapan positif, apalagi diabaikan, maka lama kelamaan orang tersebut akan merasa bahwa tidak dianggap atau tidak mendapat kepercayaan dari lingkungannya. Yang lebih meyakinkan lagi adalah kalau orang tersebut menemukan bukti-bukti bahwa ada perbedaan yang jelas, antara reaksi lingkungan terhadap dia dengan reaksi lingkungan terhadap orang lain (seperti pada kasus Hendra).
Sumbernya Diri Sendiri
Seseorang bisa tidak mendapat kepercayaan lingkungan karena beberapa sebab. Sumber penyebab biasanya berasal dari dalam dirinya sendiri, dan tiga faktor utama sebagai penyebab adalah:
Kesanggupan. Orang tersebut pada dasarnya tidak memiliki cukup kemampuan, keterampilan, pengetahuan atau pengalaman, yang bisa membuat lingkungan percaya bahwa ia memang sanggup melakukan seperti apa yang ia anjurkan. Ketidaksanggupan seseorang cepat bisa dikenali melalui kenyataan-kenyataan yang ditampilkan orang tersebut di lingkungannya. Makin sering ia tampil tidak mampu, makin sulit orang dapat mengandalkan dirinya.
Konsistensi dan Keterlibatan. Ketidakselarasan antara kata dan perbuatan terja-di. Apa yang sering dijadikan usulan, saran, gagasan yang cemerlang dan bahkan janji-janji manis hanya merupakan ucapan saja. Apa yang telah ditetapkannya atau disepakati bersama, tidak dijalankan. Ia bukan hanya tidak konsisten, tetapi juga tidak terlibat. Sikap tidak konsisten dan tidak terlibat ke dalam hal-hal yang diucapkan atau disepakatinya sendiri, paling mudah membuat orang lain tidak bisa mengandalkanya. Sebagai akibat orang lalu tidak menaruh kepercayaan padanya dan cenderung meremehkan.
Keterampilan Antar Pribadi. Banyak orang punya pengetahuan dan kesanggupan cukup baik, tetapi kurang terlatih membuat orang lain, mendengarkan, mencoba memahami dan mendukung gagasannya. Ada kemungkinan orang ini pandai bicara dan mampu berargumentasi secara logis. Namun diterima-tidaknya sebuah gagasan seringkali tidak ditentukan oleh logis tidaknya gagasan itu. Sebuah gagasan yang logis bisa saja ditolak hanya karena cara penyampaiannya tidak simpatik. Dalam hal ini si penyampai gagasan mungkin sekali tidak punya keterampilan antar-pribadi (interpersonal-skill). Ia mungkin kurang mampu menempatkan diri karena mungkin tidak peka terhadap orang-orang lain. Ia lebih sering tidak diterima secara tulus oleh lingkungannya, yang mau tidak mau akhirnya berakibat pula pada gagasan-gagasannya.
Jadi, untuk bisa mendapat kepercayaan dari lingkungan ternyata tidak cukup hanya menjadi orang yang pandai saja. Kita juga perlu menjadi orang yang “tidak dimusuhi” (=diterima secara tulus) oleh lingkungan.
(Sumber:GloriaNet-GCM/kcm)

0 comments:
Posting Komentar