25 Mei 2011

Menjadi Orang Efisien dan Bertanggung Jawab

Tipe karyawan yang efisien dan bertanggung jawab memang menjadi dambaan bagi manajemen. Biasanya, ciri yang ditampakkan adalah tidak menunda pekerjaan yang diembannya dan juga bertanggung jawab sepenuhnya atas pekerjaan tersebut.

Sudahkah Anda masuk dalam jajaran orang efisien dan bertanggung di tempat kerja Anda?

Bila belum saran berikut mungkin berguna bagi Anda. Anda simak!

Berikan pada diri Anda peringatan tertulis

Peringatan tertulis bisa Anda tempelkan di komputer pribadi Anda, meja belajar atau rak buku. Intinya, peringatan tersebut bisa menjadi semacam dorongan untuk segera mengerjakan kewajiban atau target Anda.

Susunlah rencana tindakan
Setiap menghadapi hari baru, begitu Anda bangkit dari tempat tidur di pagi hari, ada baiknya rencanakan aktivitas apa yang hendak dikerjakan hari itu. Usahakan selesaikan semua rencana sebelum kembali ke peraduan.

Mencicil secara bertahap
Jika Anda tipe orang yang suka menunda-nunda pekerjaan, ada baiknya tidak mengerjakan satu pekerjaan sekaligus. Mencicil pekerjaan, mungkin resep paling jitu untuk menyelesaikan semua pekerjaan sesuai tenggat waktu.

Kendalikan dorongan semangat
Umpamakan Anda telah menyelesaikan suatu tugas, ambillah manfaat dari dorongan semangat yang diberikannya, untuk mulai mengerjakan tugas berikutnya, sebelum kemalasan memberi peluang memperlamban gerakan Anda kembali.

Lakukan perbaikan di luar rencana

Jika tiba-tiba Anda teringat sesuatu untuk dikerjakan maka lakukanlah. Segera keluarkan berkas-berkas atau bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Ini merupakan latihan yang baik untuk dikembangkan.

Susunlah jadwal

Jika Anda mengalami kesulitan mengatur kehidupan, buatlah sebuah jadwal yang tepat dan lebih penting lagi harus realistis. Umpamanya, jika Anda merencanakan beberapa menit latihan fisik setelah bangun tidur, maka harus segera membiasakan, sehingga dapat melakukannya tanpa pikir-pikir dahulu.

Coba Anda praktekkan. Yakinlah bahwa Anda adalah orang yang bekerja efisien dan bertanggung jawab. Selamat mencoba dan sukses untuk Anda!
(Sumber:GlriaNet-GCM/SW)

23 Mei 2011

Mengusir Kelelahan Saat Bekerja

Ketika bekerja sering kita mengalami kelelahan, baik bersifat fisik maupun psikologis. Dalam keadaan seperti itu, produktivitas bisa menurun. Nah, untuk mengusir rasa lelah tersebut beberapa siasat berikut bisa dicoba.

Bersifat positif terhadap pekerjaan. Dalam bekerja hendaknya tetap memelihara antusiasme. Senangi apa yang Anda kerjakan dan kerjakan apa yang Anda senangi.

Bersantai sejenak. Gunakan waktu istirahat untuk rileks dan bersantai. Lakukan olah napas dengan menarik napas dalam-dalam untuk beberapa saat. Ini akan meningkatkan tenaga dan konsentrasi saat bekerja.

Nikmati humor dan tertawa. Bisa dengan membaca buku tentang humor atau anekdot, bisa pula dengan berkelakar bersama teman-teman sekerja. Humor dan tertawa dapat membangkitkan tenaga dan kebugaran. Akan lebih mudah menghadapi pekerjaan dengan senyum ketimbang dengan gerutu.

Bekerja secara sistematis. Buatlah skala prioritas terhadap pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan. Ini akan membuat Anda tidak terburu-buru dalam bekerja.
Banyak minum air putih. Air putih dapat menimbulkan kesegaran dan memperlancar metabolisme tubuh.

Lakukan aktivitas fisik. Untuk mengendorkan otot-otot yang mulai kaku lakukan gerak badan atau senam ringan, di dalam atau di luar ruang kerja. Bila kantor Anda bertingkat, untuk naik-turun pilihlah menggunakan tangga ketimbang lift.
(Sumber:GloriaNet-GCM/KCM)

21 Mei 2011

Mengusir Kecemasan Saat Memulai Kerja Baru

Mencari pekerjaan adalah satu kesukaran, namun memperoleh pekerjaan juga kerap mendatangkan kecemasan. Bagaimana sebaiknya memulai pekerjaan baru?

Ketika seseorang diterima sebagai karyawan baru sebuah perusahaan, perasaan senang dan bangga mungkin menghampirinya. Senang bisa jadi karena pekerjaan yang diinginkan berhasil diraih. Bangga lantaran status pengangguran yang sempat menghantui sirna sudah. Tapi, perasaan lain bisa saja muncul, seperti cemas atau bertanya-tanya tentang kemampuan diri dalam menerima tanggungjawab baru.

Perasaan itu biasa dialami banyak orang ketika memasuki dunia kerja yang baru. Apalagi bagi mereka yang baru saja lulus sekolah dan untuk pertama kali masuk dunia kerja. Lebih-lebih di sebuah perusahaan yang cukup mapan dengan nama yang tak perlu diragukan. Berbagai perkiraan menghiasi hari-hari menjelang masuk kerja. Sejumlah psikolog mengatakan, kondisi ini bukan sesuatu yang perlu ditakutkan karena merupakan kewajaran.

Apa yang perlu dilakukan ketika mengawali sebuah pekerjaan baru kerap menjadi tema pokok pikiran. Dan, itu memang harus dilakukan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya setiap pekerja baru meminta informasi sebanyak mungkin tentang lingkungan kerjanya. Bagaimana pun, lingkungan kerja, termasuk teman, akan berpengaruh banyak pada langkah berikutnya.

Selanjutnya ada baiknya pekerja lebih dahulu mempelajari produk perusahaan, filosofi yang dianut, serta cara kerja yang biasa berlaku di lingkungan baru. Ada kalanya upaya ini memakan waktu dan banyak yang tidak terlaksana. Biasanya waktu dua minggu cukup untuk melakukan perkenalan awal terhadap lingkungan dan rekan kerja yang menjadi mitra. Meski harus melakukan adaptasi lingkungan, seorang pekerja tidak perlu "menghilangkan" dirinya sebagai sosok pribadi yang utuh. Rasakanlah apakah anda merasa familiar sejak pertama melihat rekan-rekan kerja?

Saat pertama kali masuk, seseorang harus menampakkan rasa percaya diri, karena hal itu akan berdampak pada perilaku dan sikap selama berada dalam lingkungan kerja. Perasaan gelisah dan cemas justru menambah kesulitan dalam melakukan adaptasi. Untuk memudahkan itu, cobalah dengan sikap ramah dan senyum pada rekan kerja baru, tak terkecuali kepada resepsionis dan office boy. Langkah itu akan memudahkan anda untuk merasa dekat dan saling menghargai antarkaryawan di kantor.

Pada saat seperti itu seorang pekerja baru harus lebih aktif memperkenalkan diri. Jangan segan untuk mencoba menjalin komunikasi dari hal-hal kecil agar suasana hidup terbangun. Cairnya suasana akan banyak membantu kesulitan yang hampir pasti dialami pekerja pemula. Yang lebih penting lagi, awal yang baik adalah modal penting untuk kelanjutan kerja seseorang. Lembaga Career Center di University of Baltimore, AS. menyebutkan masa itu sebagai masa penentuan apakah seseorang bisa melanjutkan kerjanya atau harus mencari lingkungan lain.

Pelajaran pertama sebagai seorang pekerja baru tadi mungkin berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang cukup membutuhkan waktu satu minggu sebagai proses adaptasi. Ada pula yang memerlukan waktu satu bulan penuh. Namun, jika proses adaptasi tidak terlaksana dalam tiga bulan pertama, tentu ada persoalan serius yang perlu dicari jalan keluarnya. Bagi seorang pekerja, masa tiga bulan biasanya menjadi ukuran keberhasilan adaptasi terhadap lingkungan kerjanya yang baru.

Persoalan nyata yang harus dipikirkan kemudian ialah pekerjaan. Setiap orang tampaknya memiliki hasrat untuk berbuat yang terbaik. Pertanyaannya kemudian apakah memang pekerjaan yang diberikan cocok dengan yang menjalakannya? Nah, ada baiknya upaya mencapai yang terbaik itu dilakukan, meski tidak harus sampai kelebihan dosis, yang justru menimbulkan persoalan baru.

Sejumlah psikolog menyarankan, hadapilah kesulitan dengan senyuman dan sikap bersahabat. Kesulitan tak perlu ditunjukkan dengan kening berkerut. Cari tahu apa penyebab kesulitan itu, sampaikan kepada mitra atau atasan agar segera dicarikan jalan keluarnya. "Malu bertanya, sesat di jalan," kata pepatah. Untuk itu, perlu diketahui siapa yang menjadi supervisor ats tugas yang sedang anda jalankan.

Sebagai bagian dari sebuah komunitas, seorang pekerja perlu mendengarkan dengan seksama apa yang menjadi topik pembicaraan rekan-rekannya. Hanya saja, ketika memasuki persoalan gosip, hendaknya ia bisa menahan hati untuk tidak melibatkan diri. Nasihat ini barangkali bermanfaat bagi anda: "Pekerja baru jangan sekali-kali menjadi kontributor gosip yang belum jelas kemana arah tujuannya."
(source: arif firmansyah/CDC-FTUI)

Mengkritik Atasan, Haruskah Takut?

"SAYA tak punya hak untuk melakukan hal itu. Saya bisa dipecat!"

Kalimat itu diucapkan dengan nada tinggi oleh Herman, Asisten Manager TI sebuah perusahaan operator seluler, menjelaskan betapa di tempatnya bekerja, tidak ada kemungkinan untuk melontarkan kritik kepada atasan.

Saat itu Herman sedang berbincang dengan rekannya, Herdin, seorang wartawan sebuah surat kabar harian nasional, di sebuah kafe di Jakarta.

Kepada Herdin, meluncurlah curahan hati Herman, yang bercerita bahwa manajernya adalah seorang atasan yang sama sekali tidak mau menerima kritik bawahannya.

"Bahkan, dulu ada seorang teknisi kami yang berani mengkritik manajerku. Hasilnya, bukannya mau menerima kritik, sang teknisi malah dimarahi habis-habisan," keluh Herman.

Herman melanjutkan cerita, sang manajer tidak bisa melupakan peristiwa itu, dan menganggap si teknisi sudah kurang ajar. "Setiap hari si teknisi itu ditekan oleh manajerku, dicari-cari kesalahannya. Akhirnya si teknisi tidak tahan dan memutuskan untuk mengundurkan diri."

Berbeda dengan Herman, Herdin bercerita bahwa di tempatnya bekerja, budaya kritik sudah menjadi kebiasaan. "Untuk kepentingan sebuah berita yang bermutu, imbang, dan dapat dipertanggungjawabkan, tukar pendapat, perdebatan, dan kritik membangun bukan sesuatu yang diharamkan. Bahkan dari bawahan terhadap atasan sekalipun."

***

Kritik, memang sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Sebab tidak semua orang mau dikritik. Apalagi jika yang melontarkan kritik itu secara struktur organisasi berada di level yang lebih bawah.

Biasanya, orang akan segera bersikaf defensif dalam menerima kritik, dan beranggapan bahwa si pemberi kritik mengada-ada dan tidak menyukainya.

Memang, kritik seperti pisau bermata dua. Kritik ada yang berupa sebuah saran yang membangun meski disampaikan secara keras, ada juga yang berasal dari kedengkian, sehingga kedengaran 'nyinyir'.

Tetapi idealnya, demi kemajuan, seseorang harus lapang dada sehingga mampu menerima kritik, demi memperbaiki diri dan kinerjanya. Karena menurut Hendrie Weisinger dan Norman M Lobsenz dalam buku Nobody's Perfect: How to Give Criticism and Get Results, kritik sangat diperlukan bagi pertumbuhan individu maupun kemajuan perusahaan.

Dalam buku itu diberi beberapa contoh, perusahaan sukses yang sejak awal menumbuhkan budaya kritik, termasuk dari bawahan kepada atasan, misalnya perusahaan besar dari Jepang, Matsushita. Pendiri dan pemilik perusahaan, Konosuke Matsushita, sejak awal menggariskan kebijakan yang menekankan pentingnya kritik sebagai suatu bentuk disiplin diri, yang diperlukan bagi pertumbuhan setiap individu maupun pertumbuhan perusahaan.

Konosuke tidak membatasi kepada siapa kritik diberikan. Bawahan pun bebas mengeluarkan kritik kepada atasannya. Hasilnya, Matsushita tumbuh menjadi perusahaan elektronik dan alat berat papan atas. Produknya tidak hanya beredar di negaranya, tetapi ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kiat agar Atasan tidak Tersinggung

MUNGKIN Anda juga berpendapat bahwa ada hal-hal yang bisa diperbaiki di perusahaan Anda. Tetapi Anda kurang yakin bagaimana kritik itu akan ditanggapi oleh atasan. Jangan-jangan atasan malah berang, kemudian membahayakan karier Anda. Berikut beberapa pedoman cara mengkritik atasan.

1. Ketahui dan pertimbangkan dengan baik, bahwa memang tepat dan beralasan, Anda mengkritik atasan. Anda harus mempunyai garis komunikasi langsung dengannya. Atasan yang Anda kritik itu haruslah yang mempunyai pekerjaan yang memengaruhi pekerjaan Anda atau anak buah Anda. Adalah kurang tepat mengkritik atasan yang keputusan dan tindakannnya tidak memengaruhi Anda.

2. Jangan melontarkan kritik dengan kasar dan keras. Kemas kritik dengan bahasa sehalus mungkin. Atasan adalah atasan. Ia mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari Anda. Kritik yang kasar dan bersifat menyerang cenderung menimbulkan pertarungan kekuasaan, dan membuat atasan Anda semakin ngotot untuk mempertahankan posisinya dengan menekan Anda. Isi kritik menjadi sia-sia.

3. Lontarkan kritik seringkas mungkin, disertai dengan beberapa usul pemecahan. Uraikan secara ringkas situasi yang menurut Anda perlu diubah, dan lontarkan kritik sebagai suatu alternatif yang produktif.

4. Bangunlah keabsahan dari kritik Anda. Siapkan argumen-argumen yang memperkuat kritik Anda. Sajikanlah keterangan dari sumber yang objektif dan bisa dipercaya. Dengan menyampaikan kritik sebagai informasi, berarti Anda menunjukkan ingin mencari kebaikan bersama.

5. Minta bantuan atasan untuk memecahkan persoalan yang Anda hadapkan kepadanya.Ini taktik supaya terkesan Anda sedang tidak mengkritik dia (atasan). Dengan membawa persoalan menjadi tanggung jawab bersama, Anda membuat atasan menjadi sekutu. Contohnya, jika atasan Anda selalu terlambat menyajikan data yang dibutuhkan departemen, Anda bisa mengatakan, "Saya mendapat kesukaran menjalankan departemen ini bila data yang saya perlukan tidak masuk tepat pada waktunya. Apakah Anda punya saran untuk mengatasi hal ini?"
(sumber : mediaindo.co.id)

20 Mei 2011

Mengetik Komputer di Tempat Kerja Tanpa Lelah

Anda terbiasa bekerja lama mengetik di depan komputer? Bila ya, Anda tentu pernah mengalami rasa nyeri di jari-jari dan pergelangan tangan Anda lunglai memenceti tombol keyboard komputer. Di masa sekarang ini telah tersedia berbagai macam produk keyboard yang ditujukan agar Anda nyaman mengetik, meski dalam waktu lama.

Namun yang lebih penting adalah bagaimana Anda mengatur postur dan posisi tubuh Anda, terutama lengan Anda, sehingga Anda bisa menghindari kelelahan dan cedera.

Untuk itu ada baiknya mengikuti nasehat Stephanie Brown, seorang guru piano asal Amerika, sebagaimana dilansir Her World mengatakan,"Ikutilah disiplin pemain piano yang sedang pentas," katanya.
Stephanie memberi 5 petunjuk untuk diterapkan saat Anda mengetik papan kunci komputer. Anda simak!

Sejajarkan pergelangan tangan dengan telapak tangan
Upayakan pergelangan tangan Anda selalu sejajar dengan telapak tangan. Lemaskan pergelangan tangan Anda seperti mengambang. Jangan tegang!

Posisi siku menggantung
Pastikan siku Anda dalam posisi bebas menggantung. Menyandarkan siku pada sandaran kursi saat mengetik, selain menyulitkan Anda untuk mengetik, juga membuat Anda tegang dan cepat lelah.

Lemaskan jari telunjuk dan jari manis Anda
Kunci mengetik tanpa lekas lelah adalah melemaskan seluruh jari Anda. Jangan kaku dan tegang. Biarkan lemas, rileks, apa adanya.

Tekankan tombol dengan tenang
Jangan menekan tombol dengan kuat atau mengalirkan kekuatan penuh pada tangan Anda. Ingat, Anda sedang mengetik, bukan memukul tombol keyboard.

Bila tidak sedang mengetik
Lemaskan keseluruhan tangan bila sedang tidak memencet tombol di keyboard. Keadaan Anda sebelum mengetik juga mempengaruhi kondisi Anda di saat mengetik.

Anda tertarik mencobanya? Moga-moga tips di atas bermanfaat bagi Anda. Selamat mencoba dan sukses untuk Anda! (Sumber:GloriaNet-GCM/SW)

19 Mei 2011

Mengelola Diri

Segala yang di bawah langit pasti berubah. Hanya satu hal yang tetap
sepanjang masa, yaitu perubahan itu sendiri. Semua orang sudah
mahfum dengan perkataan ini. Tetapi, tidak semua paham bahwa setiap
perubahan selalu datang sambil bergandengan dengan segudang peluang
atau pilihan.

Saya membicarakannya karena tergelitik kampanye internal salah satu
biro iklan besar di Indonesia. ''Berubah atau Punah.'' Begitu yang
terbaca pada spanduk kecil yang terpampang pada sudut-sudut kantor
biro iklan yang berada di salah satu gedung jangkung di Jakarta.

''Tidak selamanya pergantian keadaan menuju ke arah lebih baik.
Sekali pun yang datang krisis, sejumlah peluang dan pilihan tetap
menyertainya,'' kata chief operating officer-nya.

Ambil contoh ketika terjebak kemacetan lalu lintas Jakarta. Apa yang
dapat Anda lakukan kalau berada dalam situasi menjemukan itu? Senada
dengan pendapat pemimpin biro iklan tersebut, ternyata banyak yang
dapat dilakukan kendati dalam krisis. Sejumlah teman mengaku mengisi
kemacetan dengan berzikir. Kebanyakan memilih membaca koran maupun
buku. Ada juga yang memasang kaset pelajaran bahasa asing. Semua
baik ketimbang menggerutui orang lain dan polisi.

Sementara itu, seorang teman lain memilih membuka laptop-nya dan
menyelesaikan pekerjaan setiap kali terjebak keruwetan lalu lintas.
Contoh yang ini menjelaskan bahwa dia telah beradaptasi dengan
revolusi perubahan cepat teknologi informasi dan teknologi.

Dan, dia telah mendefinisikan kembali cara kerja dan cara pandang
terhadap segala sesuatu di jaman serba komputer sekarang ini. Dia
mempunyai rumusan baru menjalankan bisnis konsultannya dengan
sokongan teknologi, yakni 3F: fast, focus dan flexible. Sehingga,
dari setiap tempat dia dapat bekerja dan berkomunikasi dengan mitra
bisnis.

Dengan rumusan tersebut dia mengaku sedang menjadikan dirinya sebuah
merek atau citra. Persis seperti sebuah perusahaan yang mencoba
menjaga reputasi dengan memuaskan semua pihak yang terkait langsung
maupun tidak terhadapnya. Sekarang ini banyak perusahaan atau produk
yang sengaja membangun citra jati dirinya ibarat manusia berbudi,
lewat aktivitas menderma, menghibur, dan memudahkan.

Cerita tersebut menarik bila disandingkan dengan semakin seringnya
datang kabar bahwa perusahaan-perusahaan sedang merasionalisasi atau
melakukan restrukturisasi organisasinya. Maksud saya, semua itu
ujung-ujungnya berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah
karyawan dengan segala konsekuensi ke penghidupan banyak keluarga.

Kembali ke awal pembicaraan kita, mereka yang terkena PHK berarti
menemui perubahan berupa krisis. Artinya, mereka sesungguhnya bukan
mengalami petaka tapi menjadi memiliki banyak peluang dan pilihan
mau bagaimana di kemudian hari.

Menjadi lebih baik. Itu pasti yang mereka inginkan. Caranya? Bisa
bekerja di tempat lain kalau masih terbuka lowongan, menjadi
wiraswasta, dan banyak lagi. Namun, apapun yang dipilih ada baiknya
mencontoh bagaimana sebuah manajemen membangun citra perusahaan
sedemikian rupa. Dengan kata lain, diri kita perlu manajemen diri
sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan yang dialami.

Anjuran tersebut berlaku bagi semua. Bukan hanya bagi yang terkena
PHK. Sebab, seiring jarum jam berputar, perubahan terus terjadi pada
diri dan lingkungan kita. Segera ciptakan pernyataan positioning
diri setalah mengevaluasi ekuitas merek diri. Intinya mengenali diri
sendiri dan mengetahui pasti apa yang dapat diperbuat dan bagaimana
strategi mencapainya.

Hal tersebut persis dengan yang diperbuat oleh manajemen perusahaan.
Mereka sadar harus terus memperbaiki diri terus menerus. Jika perlu
ganti logo, gaya komunikasi, ganti disain ruang kerja dan alat kerja
yang sudah ketinggalan jaman. Yang penting, terus mampu bersaing dan
mampu beradaptasi dengan gencarnya perubahan.

Nah, Anda dapat melihat sendiri belakangan ini bermunculan nama dan
logo baru di sekitar kita. Ada toko obat, yang namanya begitu
melekat, sekarang tampil dengan warna cerah dan masa kini. Sebuah
asuransi milik negara dan berumur tua juga tampil seperti perusahaan
yang baru kemarin diperkenalkan. Dan banyak lagi.

Sesungguhnya mereka ingin memperlihatkan kepada kita bahwa mereka
tetap mampu bersaing, tetap berdaya, dan masih pas dengan masa kini.
Begitulah mestinya diri kita. Jangan sampai kalah bersaing karena
menghindari perubahan dan tidak melihat peluang.
Berubah atau punah.

Sumber: Mengelola Diri oleh Mien R. Uno, Lembaga Pendidikan DUTA
BANGSA Empower Yourself, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan
Nasional

17 Mei 2011

Mengatasi Rasa Bosan Kerja

Siapa pun pasti pernah mengalami rasa bosan dan jenuh dengan pekerjaan. Entah mereka sudah bertahun-tahun bekerja atau baru saja masuk ke dalam dunia kerja.

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang bosan dengan pekerjaannya. Bisa karena monoton, lingkungan kerja yang tidak kondusif, rekan kerja yang menyebalkan, atau ada masalah pribadi. Lalu terpikirlah, betapa menyenangkan kalau bekerja di tempat lain.

Tapi, berpindah pekerjaan bukanlah hal yang gampang. Selain itu belum tentu di tempat yang baru kita akan bebas dari persoalan yang menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Bisa jadi keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.

Nah, meski bosan sedang melanda, Anda harus bersyukur bisa memperoleh pekerjaan. Apalagi saat ini tidak mudah mencari pekerjaan.

Jadi, lawanlah kebosanan itu dengan kiat-kiat berikut:

1. Bersikap antusias

Bersikap antusias bisa dilakukan dengan cara kita bekerja "seolah-olah menikmatinya", sehingga pada waktunya kita benar-benar menikmati pekerjaan tersebut. Hanya saja, kadang kita tidak bisa menikmati karena pekerjaan itu memerlukan waktu lama dan jam kerjanya ketat. Ada cara sederhana untuk mengatasinya, semisal dengan tersenyum atau berdiri tegap ketika merasa lelah.

Juga perlu diingat bahwa kita bukanlah robot. Hanya saja, ketika bekerja pusatkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan yang sedang kita lakukan. Istirahat dan liburan memang perlu, tapi jangan dipikir ketika sedang bekerja.

2. Lakukan yang terbaik
Meski pekerjaan tidak menarik, kita harus melakukan yang terbaik. Mengapa? Karena jika kita bekerja asal-asalan maka pekerjaan akan bertumpuk. Kalau sudah begitu, kita semakin terbebani dan ada kemungkinan melakukan kesalahan. Salah berarti kita harus bekerja dua kali atau lebih, sehingga kita menjadi jengkel yang bisa-bisa bermuara ke stres.

Jadi, dengan menyelesaikan suatu pekerjaan tepat waktu dan memberi prioritas kepada pekerjaan yang terpenting, maka kita bisa memiliki waktu lebih. Menurut buku The Joy of Working, pekerjaan yang diselesaikan dengan baik akan menghasilkan kepuasan batin. Untuk memperbaiki mutu pekerjaan, kita bisa menetapkan standar dan tujuan baru agar bisa mengungguli diri kita sendiri.

3. Memperindah pekerjaan kita

Biasanya pekerjaan yang kita terima dari atasan disertai dengan rangka berisi aturan dan pedoman. Jika kita melakukan pekerjaan tersebut sesuai juklak, maka tidak ada sentuhan pribadi kita pada pekerjaan tersebut. Adanya sentuhan pribadi akan membuat pekerjaan jauh lebih menarik. Karena bersifat pribadi, maka tidak ada aturan baku untuk hal itu. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memperindah sesuatu. Misalnya, agar bisa menikmati pekerjaannya, seorang pelayan senang menghapal pesanan pelanggan tetap, sementara yang seorang mungkin bersikap lebih baik dan sopan.

4. Teruslah belajar

Menurut buku Tension Turnaround, otak meningkatkan kapasitasnya untuk memproses informasi seraya kita bertumbuh. Untuk itu kita harus memuaskan keinginan otak kita akan informasi baru dengan mempelajari hal-hal baru. Dengan belajar tentang pekerjaan, kita akan sangat terbantu dalam membuat pekerjaan menjadi lebih menarik dan memuaskan. Hal itu karena belajar bisa meningkatkan rasa percaya diri dan kesanggupan kita serta mempengaruhi sikap secara umum terhadap kehidupan.

Banyak hal yang bisa kita pelajari, terutama yang tidak secara langsung berhubungan dengan pekerjaan. Misalnya hubungan antarmanusia, tentang peralatan pekerjaan kita, cara menulis memo kantor yang lebih baik, memimpin rapat yang lebih efektif, atau cara yang lebih baik dalam berurusan dengan atasan. Untuk mempelajari hal itu mungkin perusahaan tempat kita bekerja memiliki anggaran khusus untuk pelatihan semacam itu. Jika tidak, mengapa tidak memanfaatkan perpustakaan yang ada di kantor? Bisa jadi ada buku-buku yang kita butuhkan.

Belajar juga bisa melalui pengalaman orang lain. Kita bisa mengamati rekan sekerja mengenai kekuatan dan kelemahan yang bisa kita jadikan bahan pelajaran. Bahkan dengan belajar dari kesalahan atau keberhasilan kita sendiri, kemudian menganalisisnya sehingga bisa melakukan hal-hal yang tepat di kemudian hari. Dengan melakukan hal ini, kita bisa memperoleh pelajaran yang tidak mungkin bisa kita dapatkan di sekolah ataupun dengan membaca.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan dalam memerangi rasa bosan terhadap pekerjaan. Singkirkan pikiran negatif yang bisa membuat liburan kita terbebani oleh pekerjaan. Jangan memikirkan kegagalan di masa lalu sembari mencemaskan pendapat orang tentang diri kita. Berikan perhatian penuh pada pekerjaan, menjadi asyik dengannya, dan melakukan upaya yang terbaik sehingga kita bisa merasakan suatu kegembiraan karena telah menyelesaikan pekerjaan kita.
(Sumber:GloriaNet-GCM/is)

“Mengapa Saya Kurang Dipercaya?”

Sudah ketiga kali saya terpaksa meminta bantuan orang lain untuk menyampaikan apa yang menjadi gagasan atau pemikiran saya kepada kelompok. Mengapa? Karena setiap kali mencoba untuk menguraikan usulan saya, ada kesan mereka tidak mendukung atau kadang-kadang tidak menggubris sama sekali. Herannya, kalau usulan atau rencana saya itu disampaikan oleh orang lain bisa mendapat tanggapan atau persetujuan. Sering saya berpikir, apa dosa saya?” Begitu kira-kira keluhan yang disampaikan Hendra. Ia juga pernah merasa tidak dianggap oleh atasannya ketika mengajukan usulan sebagai jalan keluar terhadap masalah yang dialami unit kerjanya. Atasannya lebih memilih menerapkan saran dari salah satu rekan kerjanya, yang intinya sama saja dengan yang diajukannya.”

Mungkin di antara kita juga pernah mengalami hal yang sama, yaitu merasa kurang dipercaya atau kurang diandalkan oleh sekitar kita. Dalam keluarga, bisa terjadi ibu atau ayah lebih mengandalkan si bungsu ketimbang si sulung jika membutuhkan bantuan waktu, tenaga maupun pikiran. Akibatnya si sulung merasa tidak dipercaya. Seorang ibu peserta diskusi dalam sebuah kegiatan pelatihan juga pernah mengeluh. Ia membandingkan “nasib” dirinya di rumah dengan “nasib” suaminya. Menurut ibu tersebut, anak-anak lebih percaya dan lebih menuruti apa kata ayahnya dari pada apa yang dikatakan ibunya.

"Saya sering sedih bercampur jengkel karena tidak dipercaya oleh mereka. Apa saya mi terlalu hodoh di mata mereka? Kalau saya pikir-pikir saya kan lebih kenal anak-anak. Saya tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk mereka. Tapi kalau saya memulai pembicaraan yang meminta supaya mereka sebaiknya begini atau begitu, seakan-akan pembicaraan saya di-cuek-in, lewat begitu saja. Saya sedih sekali," katanya.

Percaya Diri
Merasa kurang dipercaya, di satu sisi dapat membuat seseorang jadi kurang yakin diri, menyalahkan diri sendiri, merasa lemah, ragu-ragu dan akhirnya kurang berani bertindak.

Di sisi lain, pada orang yang berbeda dalam kondisi yang sama, reaksinya bisa lain lagi. Mereka bisa agresif dengan tetap melakukan apa yang menjadi gagasannya, kurang mempedulikan mereka yang tidak mempercayainya, atau bahkan mencoba menentang lingkungan.

Orang-orang seperti ini bukan tidak merasa kecewa terhadap keadaan yang dialaminya, hanya saja cara mereka mengatasi kekecewaaan berbeda. Orang-orang seperti ini biasanya punya keyakinan terlalu besar pada dirinya, sehingga kurang peduli pada reaksi orang lain.

Tidak Seketika

Kalau melihat dari sisi cara mereka bereaksi, baik yang cenderung menyalahkan diri sendiri maupun yang tidak peduli lingkungan, keduanya adalah cara-cara bereaksi yang tidak tepat. Bagaimana pun merasa tidak mendapatkan kepercayaan lingkungan adalah satu kondisi psikologis yang tidak nyaman, kalau tidak boleh dikatakan tidak sehat’.

Merasa tidak dipercaya tidak datang begitu saja. Anggapan dan perasaan ini berkembang melalui lebih dari satu peristiwa yang berturut-turut dialami dan dirasakan melalui kegiatan interaksi dengan orang-orang lain di lingkungan.

Kalau melalui beberapa peristiwa, apa yang menjadi ungkapan pemikiran, gagasan atau saran-saran seseorang tidak mendapat tanggapan positif, apalagi diabaikan, maka lama kelamaan orang tersebut akan merasa bahwa tidak dianggap atau tidak mendapat kepercayaan dari lingkungannya. Yang lebih meyakinkan lagi adalah kalau orang tersebut menemukan bukti-bukti bahwa ada perbedaan yang jelas, antara reaksi lingkungan terhadap dia dengan reaksi lingkungan terhadap orang lain (seperti pada kasus Hendra).

Sumbernya Diri Sendiri
Seseorang bisa tidak mendapat kepercayaan lingkungan karena beberapa sebab. Sumber penyebab biasanya berasal dari dalam dirinya sendiri, dan tiga faktor utama sebagai penyebab adalah:

Kesanggupan. Orang tersebut pada dasarnya tidak memiliki cukup kemampuan, keterampilan, pengetahuan atau pengalaman, yang bisa membuat lingkungan percaya bahwa ia memang sanggup melakukan seperti apa yang ia anjurkan. Ketidaksanggupan seseorang cepat bisa dikenali melalui kenyataan-kenyataan yang ditampilkan orang tersebut di lingkungannya. Makin sering ia tampil tidak mampu, makin sulit orang dapat mengandalkan dirinya.

Konsistensi dan Keterlibatan. Ketidakselarasan antara kata dan perbuatan terja-di. Apa yang sering dijadikan usulan, saran, gagasan yang cemerlang dan bahkan janji-janji manis hanya merupakan ucapan saja. Apa yang telah ditetapkannya atau disepakati bersama, tidak dijalankan. Ia bukan hanya tidak konsisten, tetapi juga tidak terlibat. Sikap tidak konsisten dan tidak terlibat ke dalam hal-hal yang diucapkan atau disepakatinya sendiri, paling mudah membuat orang lain tidak bisa mengandalkanya. Sebagai akibat orang lalu tidak menaruh kepercayaan padanya dan cenderung meremehkan.

Keterampilan Antar Pribadi. Banyak orang punya pengetahuan dan kesanggupan cukup baik, tetapi kurang terlatih membuat orang lain, mendengarkan, mencoba memahami dan mendukung gagasannya. Ada kemungkinan orang ini pandai bicara dan mampu berargumentasi secara logis. Namun diterima-tidaknya sebuah gagasan seringkali tidak ditentukan oleh logis tidaknya gagasan itu. Sebuah gagasan yang logis bisa saja ditolak hanya karena cara penyampaiannya tidak simpatik. Dalam hal ini si penyampai gagasan mungkin sekali tidak punya keterampilan antar-pribadi (interpersonal-skill). Ia mungkin kurang mampu menempatkan diri karena mungkin tidak peka terhadap orang-orang lain. Ia lebih sering tidak diterima secara tulus oleh lingkungannya, yang mau tidak mau akhirnya berakibat pula pada gagasan-gagasannya.

Jadi, untuk bisa mendapat kepercayaan dari lingkungan ternyata tidak cukup hanya menjadi orang yang pandai saja. Kita juga perlu menjadi orang yang “tidak dimusuhi” (=diterima secara tulus) oleh lingkungan.
(Sumber:GloriaNet-GCM/kcm)

15 Mei 2011

Mengandalkan Intuisi dengan Tepat

Memang, intuisi cukup sulit diterjemahkan. Sebagian orang menyebutnya sebagai feeling, perkiraan, perasaan, spekulasi, kreativitas, atau imajinasi. Tapi apapun terjemahannya, dalam waktu tertentu intuisi diperlukan untuk mendukung sebuah keputusan. Tentu saja dalam dunia bisnis, intuisi tidak bisa diandalkan tanpa pertimbangan lainnya. Intuisi perlu dilengkapi dengan sejumlah data dan uji coba. Contohnya Einstein, ia mendapatkan gagasan berdasarkan intuisi. Namun, ia berusaha melakukan uji coba dan eksperimen untuk mengukur sejauhmana keakuratan gagasan itu.

Berdasarkan survei, sejumlah pemimpin puncak mengaku memakai intuisi dalam mempekerjakan dan mempromosikan karyawan. Sebagian lagi mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan tentang produk. Tapi tetap saja intuisi harus dikendalikan. Karena seperti halnya logika, intuisi juga bisa salah. Lalu bagaimana menggunakan intuisi dengan tepat? Ada beberapa hal yang bisa dimanfaatkan jika ingin memanfaatkan intuisi Anda, seperti yang diungkapkan oleh Rekan Kantor berikut ini:

* Bedakan intuisi dari angan-angan muluk

Jika Anda ingin memakai intuisi, coba tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda dipengaruhi oleh pikiran dan harapan yang muluk atau sekedar perkiraan semata? So, lebih baik jika Anda mengandalkan intuisi secara objektif. Artinya intuisi itu berdasarkan perkiraan yang didukung data-data.

* Bedakan intuisi dan keinginan pribadi

Seringkali seseorang mencampuradukkan intuisi dengan keinginan pribadi. Misalnya Anda memperkirakan kesuksesan peluncuran produk hanya karena produk itu karya Anda sendiri. Hindari perkiraan semacam ini. Anda boleh saja meluncurkan produk berdasarkan intuisi, karena produk tersebut benar-benar layak dipasarkan dan berkualitas, bukan cuma karena karya Anda sendiri.

* Jangan campur intuisi dan emosi pribadi

Perkiraan yang didasarkan emosi pribadi jelas tidak obyektif. Contoh kasus, pelaku bisnis di Inggris terus mempertahankan suatu produk hanya karena penghuni istana Buckingham masih suka memakai produk itu, sementara masyarakat umum sudah tidak menyukainya sama sekali. Hal seperti inilah yang harus dihindari.

* Jangan memakai intuisi secara terburu-buru
Kadang intuisi memang muncul secara mendadak, namun jangan keburu menggunakannya sebagai langkah pengambil keputusan atau tindakan. Intuisi itu tetap memerlukan kelayakan uji coba untuk menghindari penilaian yang terlalu dini.

* Jangan enggan menguji

Seberapapun canggihnya intuisi Anda, pertimbangkan untuk menguji kelayakan intuisi itu. Jangan terlalu saklek oleh satu intuisi tanpa pertimbangan lain. Dengarkan pendapat orang lain tentang intuisi Anda disertai suatu pengujian serius.

Nah, sudahkah Anda menggunakan intuisi dengan tepat? Jika Anda dapat memanfaatkannya dengan baik, bukan tak mungkin bisnis atau pekerjaan Anda dapat berlangsung sukses. Selamat memanfaatkan intuisi...! (Sumber:Gloria-GCM/astaga-*)

14 Mei 2011

Mempererat Jalinan Pertemanan

Dimanapun berada, Anda tetap membutuhkan jaringan pertemanan yang kuat, kecuali jika Anda orang yang sangat individualis dan tidak butuh bersosialisasi. Tak terkecuali di lingkungan kantor. Sangat disayangkan bila di lingkungan kantor yang cukup luas, Anda hanya sibuk dengan diri sendiri.

Namun, untuk membentuk hubungan pertemanan yang kuat di lingkungan kantor, bukan hal mudah. Karena masing-masing memiliki ego dan "keakuan" yang berbeda. Tetapi, tentu saja semua itu bisa diupayakan. Berikut ini beberapa kiat agar hubungan Anda dan rekan-rekan di kantor terjalin erat:

Makan siang bersama
Walau kelihatannya sepele, tapi makan siang bersama memiliki efek yang lumayan besar. Kebersamaan yang terjadi di saat Anda dan rekan-rekan "mengendurkan urat syaraf sambil santap siang bisa menjadi ikatan pertemanan yang cukup erat.

Olahraga bersama
Kalau di kantor Anda memiliki grup atau komunitas olahraga, masuklah di dalamnya. Keterlibatan Anda di dalam klub itu dapat memperkuat hubungan Anda dan rekan-rekan yang terlibat di dalamnya. Bahkan, dengan mengikuti perkumpulan ini, hubungan Anda dan bos atau rekan-rekan lain yang semula kaku dapat lebih rileks.

Rekreasi bersama
Jika waktu dan kondisinya memungkinkan, lakukan piknik atau rekreasi bersama rekan-rekan kantor Anda. Kalau perlu Andalah yang mengkoordinir acara ini. Percayalah, kegiatan tersebut akan mengakrabkan Anda dan rekan-rekan. Suasana riang dan santai yang tercipta dapat menumbuhkan rasa kebersamaan.

Datang ke acara rekan
Menghadiri acara yang diadakan oleh rekan sekantor merupakan suatu bentuk penghargaan pada rekan Anda itu. Datanglah jika Anda diundang pada acara pernikahan atau ulang tahun rekan Anda. Memang, kadang Anda dihinggapi rasa malas menghadiri acara seperti ini. Akan tetapi kalau Anda melakukannya, dampaknya cukup berpengaruh pada hubungan Anda dan rekan tersebut. Karena bentuk perhatian seperti ini memang diperlukan untuk menjaga hubungan baik yang telah terbina. Seandainya memang tidak bisa hadir, jangan lupa untuk memberi ucapan selamat pada rekan Anda keesokan harinya.

Bertegur sapa dan tersenyum

Saling bertegur sapa saat berpapasan plus sunggingan senyum mampu
merontokkan "ego" rekan-rekan di kantor Anda. Sapalah mereka dengan kata-kata singkat seperti "hai", "halo", "selamat pagi", dan seterusnya. Tegur sapa dan senyum bisa jadi merupakan awal suatu hubungan yang lebih erat.

Memang, cara-cara tersebut terkesan sangat sederhana. Namun jika Anda melakukannya dengan tulus, jaringan yang kuat antara Anda dan rekan-rekan di kantor akan tercipta dengan sendirinya. Percayalah, jika hubungan yang erat telah terbina, rasa kebersamaan, tolong menolong dan kepedulian akan tumbuh
di antara Anda dan rekan-rekan. Bukankah hal ini sangat berharga di tengah kehidupan yang semakin angkuh?


Konflik di Tempat Kerja = Awal Sukses Karir Anda

Merasa kurang nyaman dengan situasi chaos di tempat kerja? Tak usah bingung berlama-lama. Ada beberapa strategi khusus agar Anda bisa survive dan sukses di kantor. Hasilnya? Rasa percaya diri Anda menguat, karir Anda pun pun melejit.

Agar Anda meraih sukses dan karir Anda pun melejit, tak ada salahnya Anda simak kiat pakar karir, Susan M. Campbell, Ph.d, dalam bukunya >From Chaos To Confidence. Hasil survey Susan terhadap klien-kliennya yang pernah mengalami chaos dalam pekerjaannya dan lalu bisa sukses mengatasinya. Susan
menemukan ada 8 tahap perkembangan sikap dan tindakan yang biasanya dilalui sbb:

1. Merasa tak nyaman.
2. Menutup mata dan menghindar.
3. Berhadapan dengan situasi.
4. Melangkah dalam ketidakpastian.
5. Memperjelas visi.
6. Mencoba kemungkinan baru.
7. Membuat keputusan.
8. Berintegrasi dengan perubahan.

Dengan mengikuti saran Susan di atas, lalu apa untungnya bagi Anda turut berpartisipasi dalam setiap perubahan? menggambarkan bahwa Anda senantiasa berkembang dan mempertajam kemampuan. Jika motivasi utama Anda mencari cara menambah nilai, maka perubahan ini akan dihargai orang lain.

Selain itu, Anda juga akan mendapati bahwa proses belajar merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari Anda. Tentunya Anda akan semakin cerdas, berpengetahuan, berwawasan dan terampil.

Akhirnya, dengan sendirinya Anda mampu mengatasi perubahan berikutnya. Ingat, dunia senantiasa membutuhkan lebih banyak lagi orang yang mampu berada di atas setiap perubahan apapun.

Nah, olahlah setiap konflik menjadi peluang.

Sukses bukan datang karena upaya yang mulus tanpa jalan berliku. Justru onak dan duri-lah yang kerap membawa seseorang menuju sukses. Yang penting, bagaimana Anda mengelola setiap kesulitan yang tengah dihadapi, bukan?
(sumber:unknown)

13 Mei 2011

Memenuhi Keinginan Bos

Kalau Anda termasuk yang masih menebak-nebak seperti itu, daftar di bawah ini mungkin bisa membantu.

* Menjadi sumber daya yang berharga

Caranya, dengan menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin dalam waktu yang masuk akal. Selain itu, Anda juga diharap tidak bolak-balik datang ke ruangan bos hanya untuk melontarkan sederet pertanyaan tentang bagaimana mengatasi masalah yang terjadi ketika akan menyelesaikan pekerjaan.

* Antusias dan giat
Fokuslah pada pekerjaan dan jangan biarkan gangguan macam apa pun membuyarkan konsentrasi Anda. Berpikir positif dan tunjukkan pada dunia apa yang bisa Anda lakukan.

* Konsisten
Kelolalah semua potensi yang Anda miliki dengan baik supaya Anda bisa bekerja secara konsisten dalam saat apa pun. Perlihatkan performa yang baik di sore hari, sebaik yang Anda lakukan di pagi hari. Begitu pula di akhir pekan, lakukan sebaik Anda melakukannya di awal pekan.

* Tunjukkan respek dan loyalitas
Hormatilah posisi bos Anda. Sebagai atasan, ia berhak memperolah penghargaan yang layak. Bicaralah hal-hal yang baik tentang bos Anda kepada siapa pun.

* Jujur dan adil

Berikan bos Anda informasi yang tepat dan akurat. Kalau perlu, berikan saran dan kritik agar pekerjaan yang Anda lakukan bersama berjalan lebih efektif. Bicaralah dengan penuh minat dan jujurlah akan ekspektasi Anda terhadapnya.

* Pelihara rasa humor

Humor tak cuma dibutuhkan dalam hubungan pertemanan. Dalam pekerjaan, humor diperlukan untuk meringankan masalah, untuk melihat masalah dari sudut pandang yang ringan dan memberi kesegaran pada suasana yang terlanjur kaku.

Tentu saja kepekaan Anda terhadap kebutuhan bos akan menjadi nilai plus bagi Anda. Maka bersikaplah lebih jeli apa saja yang kini tengah dibutuhkannya. Selama Anda dapat melakukannya tanpa kesan 'cari muka', karir Anda aman-aman aja tuh. Sukses untuk Anda! (sumber:GloriaNet-GCM/ac)

10 Mei 2011

Membina Hubungan

Orang berhasil atau gagal. Begitulah biasanya kita menilai orang-
orang di sekeliling. Apapun bisnis, profesi maupun pekerjaannya. Ada
pengusaha sukses, ada pengusaha yang biasa-biasa saja. Ada karyawan
yang berhasil mencapai karier bagus, ada pula yang kariernya kurang
menguntungkan. Siapa pun ingin masuk kategori yang berhasil alias
sukses.

Namun, bagaimana caranya? Mengapa seseorang bisa berhasil, sementara
yang lain gagal? Itulah masalahnya. Menariknya keberhasilan seseorang
ternyata tidak berhubungan dengan jenis kelamin. Sebab, dalam barisan
orang sukses pada semua bidang selalu ada perempuan dan laki-laki.
Ukuran tubuh juga tidak menjamin sebuah sukses. Karena, sebagian
mereka jangkung dan sebagian lagi sedang-sedang saja. Daerah asal
juga begitu. Mereka datang dari berbagai penjuru.

Tidak pula dengan masalah latar belakang pendidikan, sebab beragam
sekali pendidikan mereka. Memang ukuran keberhasilan yang dimaksud
akan berbeda-beda bagi setiap orang. Tetapi, ada kesamaannya: mereka
disebut orang berhasil dan memiliki kehidupan bahagia, yakni mereka
berkemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Coba
perhatikan sekeliling kita.

Apakah orang sukses itu, misal yang melesat dalam karier sampai ke
puncak, adalah orang yang paling pandai di bidangnya dari orang-orang
yang Anda tahu? Atau, mereka adalah orang-orang ''pandai bergaul''
dan mampu berkomunikasi yang baik dengan banyak orang? Mereka yang
berhasil dan mempunyai kualitas hidup yang baik rupanya tipe orang
yang bukan pemalu, tidak canggung, dan tidak rendah diri. Sebaliknya
mereka yang gagal atau merasa sulit dalam hubungan manusia biasanya
pemalu, canggung, dan tidak percaya diri, serta menjauhkan diri dari
masyarakat.

Masalahnya banyak sekali orang merasa pandai bergaul dan banyak punya
teman sejati walaupun dalam hatinya tahu ada kekurangan dari dirinya.
Mereka merasa heran mengapa karyawan, bawahan, atau rekan sekerja
bahkan keluarganya tidak menghargainya. Mereka sulit mendapat sikap
kerjasama secara suka rela dan suka cita dari sekitarnya. Mereka
bertanya-tanya sendiri mengapa harus selalu memaksa dan memerintah
bahkan keluar uang banyak untuk mendapat persetujuan orang lain.

Sesungguhnya kemampuan membina hubungan manusia sama saja dengan
keterampilan di bidang lain. Kita akan sukses dalam berhubungan
manusia, selalu mendapat persetujuan dan dukungan orang lain, bila
telah menguasai prinsip-prinsip dasarnya. Antara lain, bagaimana
berharganya ego bagi setiap orang, sehingga ego itu harus dipuaskan
dan tidak boleh merasa terancam. Bahwa setiap orang lebih tertarik
membicarakan diri sendiri. Bahwa setiap orang selalu ingin
dipentingkan. Bahwa setiap orang mengharapkan persetujuan dari orang
lain.

Denga kata lain, orang lain akan memberi memberikan persetujuan dan
dukungan kepada Anda kalau Anda telah memenuhi dan memuaskan
kebutuhan ego dan memberi pesertujuan kepadanya. Anda tidak perlu
ragu melakukannya. Ibarat menabur investasi kebaikan maka kebaikan
yang berlipat besarnya yang dituai. Benih kebaikan yang perlu kita
tabur antara lain pujian tulus, senyuman, sikap positif, antusias
terhadap pendapatnya, tidak mengritik di depan umum, tidak
menempatkan diri sebagai pesaingnya, memberi dorongan dan bersedia
orang lain membicarakan dirinya.

Bersamaan dengan itu, jangan lupa mempelihatkan pesona kepribadian
Anda. Misalnya, cara berjalan Anda. Sebab tindakan fisik sesorang
membuktikan kondisi mentalnya. Seperti tatkala melihat orang yang
berjalan dengan pundak terkulai, maka kesan yang kita terima adalah
dia seolah memikul beban begitu berat sehingga kehilangan semangat.
Orang yang selalu melihat ke bawah mengesankan orang yang pesimis dan
ragu-ragu.

Hal lain adalah cara Anda menjabat tangan orang lain. Jabatan yang
mantap menunjukkan Anda seorang yang percaya diri. Sebaliknya jika
cara Anda menggenggam tangan orang lain dengan lunglai akan
mengesankan percaya diri yang rendah. Contoh lain adalah nada suara.
Suara tidak hanya alat mengekspresikan pendapat saja, tapi juga dapat
memperlihtakan apakan kepribadian Anda yang sering mengeluh atau
penuh keyakinan. *) Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional

Sumber: Membina Hubungan oleh Mien R. Uno, Lembaga Pendidikan DUTA
BANGSA Empower Yourself

09 Mei 2011

Memahami Kritikan Bos

Siapa sih yang senang dikritik..? Ayo ngaku deh walau mengaku oke-oke aja dikritik tapi di dalam hati pasti ada perasaan 'nggak enak' kan? Pasti deh anda ingin melakukan pembelaan diri dengan mengajukan argumentasi yang kuat untuk membantah kritik yang ditujukan pada anda. Tapi bagaimana kalau yang mengkritik bos anda langsung..? Apakah anda juga akan mengajukan argumentasi mati-matian?

Memang membela diri itu terjadi secara refleks dan alamiah, terutama jika anda merasa kritikan itu tidak tepat. Tapi perlu anda ketahui bahwa ternyata jika caranya nggak pas, pembelaan diri atas kritik bos bisa menciptakan jarak yang sangat jauh antara anda dan bos. Bos akan menganggap anda selalu bersikap defensif sekalipun anda berada dalam kondisi yang salah. Bos juga akan menilai anda tidak terbuka pada setiap bentuk koreksi diri.

Akibatnya bos merasa tidak nyaman berbicara dengan anda. Dampak lebih jauh yang bisa saja terjadi, anda tidak dilibatkan dalam tugas penting. Hal ini jelas merugikan anda bukan..? Lalu bagaimana sebaiknya sikap anda jika dikritik bos..? Jika bos mengkritik anda, bersikaplah secara positif. Terbukalah terhadap segala bentuk kritik, apalagi kritik dari bos. Cobalah berpikir bahwa kritik bukanlah celaan apalagi hinaan.

Yakin deh pasti bos memiliki alasan yang cukup tepat untuk mengkritik anda. Jika anda ingin melakukan pembelaan diri, lakukan dengan bijak, jangan penuh emosionil. Sampaikan di saat yang tepat. Mungkin pertemuan informil dapat anda pilih untuk menjernihkan kritikan bos. Ingat, anda berbicara untuk menjernihkan masalah bukan untuk membela diri. Sampaikan terima kasih pada bos karena ia telah mengkritik anda. Karena kritik dari bos juga merupakan salah satu bentuk penghargaan atas performa kerja anda. Kritik dari bos juga menandakan bahwa bos 'concern' pada anda.

Perlu anda waspadai argumentasi yang meledak-ledak hanya membuat nilai anda semakin minus di mata bos. Sebaliknya jika anda merenungi kritikan bos, mungkin anda akan menemukan kebenaran ataupun sisi positif kritikannya. Dengan demikian anda akan menyadari kekurangan dan kesalahan anda. So, anda bisa memperbaiki atau paling tidak meminimalkan kekurangan anda. Dengan demikian anda telah berlaku bijaksana dalam menerima kritikan bos. Bukankah lebih baik dikritik daripada dicuekin bos....? (Sumber:GloriaNet-GCM/Astaga)

MASALAH YANG SERING ”HINGGAP” DI KANTOR

Ini merupakan solusi untuk beberapa masalah yang sering “hinggap” di kantor dan mungkin sering anda hadapi...
Problem:Pembagian tugas di kantor sangat tidak adil
Solusi: tanyakan pada atasan, rekan sekerja atau supervisor tentang tugas setiap individu di kantor tersebut.Buat daftar tertulis, berikan salinannya pada semua orang di departemen anda.Termasuk atasan.Hal ini akan membantu atasan melihat pembagian tugas yang tak adil tadi.Bila atasan tak juga sadar dan tetap memberi pekerjaan ekstra,katakana anda mau membantu tapi sedang tak ada waktu.Tunjukkan pekerjaan yang sedang anda kerjakan , lalu sarankan pada bos agar diberikan pada teman sekerja yang lain,karena kebetulan itu memang tugasnya.

•Problem:perintah yang diberikan atasan sering tidak jelas
•Solusi:Sebelum memulai proyek tertentu,buat laporan tentang langkah-langkah apa saja yang akan anda lakukan untuk menyelesaikannya.beri prioritas dan ajukan pertanyaan yang membantu anda memahami maksudnya.Jangan coba0coba menduga dan melakukan sendiri menurut perasaan anda.

•Problem:atasan menolak permohonan cuti yang jadi hak saya
•Solusi:alasannya hanya satu: atasan anda khawatir tugas yang ditinggalkan nanti tak selesai pada waktunya.Maka saat mengajukan cuti , lengkapi surat permohonan dengan laporan pekrjaan yang sedang berlangsung dan siapa saja yang akan membantu anda untuk menyelesaikannya.Seminggu sebelum cuti, laporkan kemajuan setiap proyek tadi.Bila masih ditolak juga, lampirkan surat tadi ke HRD dan jelaskan dengan sopan bahwa anda telah memenuhi kriteria untuk dapat cuti yang sesuai dengan peraturan perusahaan.

•Problem:di saat presentasi , saya selalu terbata-bata bila menjawab pertanyaan siapa pun
•Solusi:sebelum pertemuanberikutnya, pelajari habis-habisan presentasi anda.Antisipasilah dengan mempelajarinya bersama rekan satu departemen.Juga catat semua gagasan dan bawa ke pertemuan.Bacalah saat anda diminta menyumbang saran.

•Problem:Meski sering presentasi, saya selalu tegang.
•Solusi: sebelum presentasi, anda harus siap.Kuasai materi presentasi dan pemakaian alat presentasi.Jangan lupa, cari tahu siapa audience anda.Baca situasi psikologis mereka, kemauan dan keinginan yang tak diucapkan.Cermati bahasa tubuh mereka.Antisipasi reaksi mereka.Busana sebaiknya sepadan dengan citra yang ditampilkan dan menambah kepercayaan diri anda.Nikmati saat jadi presenter.Lakukan tanpa beban.Senyum dan ingat:jika anda menyenangi yang dikerjakan, orang lain pun akan demikian.

•Problem:Bagaimana ‘mendekati” bos baru ?
•Solusi:Pelajari karakter bos baru, sesuaikan sikap dan perilaku anda.Bersikaplah pro-aktif dan berinisiatif menjalin keakraban.Cobalah membaca keinginannya dan segera tindak lanjuti sebelum diminta.Bersikapalah terbuka agar ia lebih memahami situasi yang anda hadapi.Caritahu tentang kehidupan pribadinya, misalnya soal keluarga, dan ajak bicara dalam suasana santai.Tapi anda dilarang keras “cari muka”

•Problem:Tidak bisa bilang "tidak", padahal jadwal anda sudah penuh
•Solusi: ubahlah kebiasaan menglurkan tangan dan menerima semua pekerjaan “muntahan” yang dibebankan kepada anda.Tubuh dan pikiran anda juga perlu istirahat.Saat performance appraisal, atasan tidak akan mengingat semua perbuatan baik anda di kantor.Ia hanya mengingat siapa yang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan sesuai dengan standar yang diminta.bukankah ini berarti tidak ada ruginya bukan sesekali bilang “tidak”?

(sumber:the Jakarta Consulting Group/majalah Kosmopolitan)

08 Mei 2011

Manusia Bahagia Bila....

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata.
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.
Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk
menyadari, betapa ia dicintai.
Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang
lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia kare! na tidak mau membuka hati, berusaha
meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan
segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri
yang ada. Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan
diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa
saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih
lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan,
karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri. Memilih
teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang
sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah,
ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang,
selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.
Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor
satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai
oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kit! a sendiri. Jikalau
berharap dari orang lain, maka bersiaplah untuk ditinggalkan,
bersiaplah untuk dikhianati. Kita akan bahagia bila kita bisa
menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri,
mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepada-Nya, bahwa
kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak
perlu berkeras hati. Ia akan memberi kita di saat yang tepat
apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada
esok hari. Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai
begitu banyak orang.

Bila rahasia sebuah atom dari atom-atom tersingkap, rahasia
segala benda ciptaan, baik lahir maupun batin akan tersingkap,
dan kau takkan melihat pada dunia ini atau dunia yang akan
datang sesuatu kecuali Tuhan. (Syaikh Ahmad Al-Alawi)

07 Mei 2011

Mandiri di Dalam Kelompok

Bekerja sama dalam satu tim memang membutuhkan kekompakan dan kerja sama
yang solid. Tapi meski demikian, anda juga dituntut untuk mandiri di dalam
kelompok. Artinya, walau kerja tim, anda tidak boleh hanya mengandalkan
bantuan dan pertolongan rekan satu tim. Anda tetap harus memberikan
kontribusi pribadi bagi kepentingan kelompok.

Menjadi mandiri dalam kelompok kerja sama, dapat diupayakan dengan berbagai
cara:

* Inisiatif
Bekerja sama bukan berarti anda cukup menunggu perintah ketua kelompok.
Kalau perlu lakukan apa saja yang dapat anda perbuat untuk kelompok tanpa
menanti perintah. Tentu saja asal anda tahu batas inisiatif yang jelas.
Selain itu, jangan ragu untuk menawarkan bantuan pada rekan yang membutuhkan
bantuan anda. Jangan lupa, inisiatif juga merupakan bagian dari kontribusi
pada kelompok.

* Jangan tergantung
Jangan biasakan sifat ketergantungan di dalam kelompok. Tanamkan bahwa anda
juga harus berbuat sesuatu untuk kelompok. Nggak perlu cemas dan takut
jika salah satu anggota tim tidak hadir. Bahkan seandainya ketua tim
berhalangan, anda tidak boleh kehilangan semangat untuk bekerja sama.

* Kembangkan diri
Jangan menganggap bahwa nama anda akan ikut terangkat meski anda
"malas-malasan" dalam kelompok, sementara yang lain bekerja keras. Jangan
lupa, walau kerja tim, masing-masing anggota kelompok juga memiliki nilai
tersendiri. Karena itu jangan mengandalkan kerja keras rekan lain. Sadarlah
bahwa anda juga perlu mengembangkan diri di dalam kelompok. Buka mata dan
telinga anda terhadap segala bentuk informasi yang bersifat membangun.
Perkaya wawasan dan pengetahuan anda, ini berguna untuk kontribusi bagi
kelompok.

* Kesempatan berharga
Tanamkan pada diri anda bahwa bekerja dalam tim merupakan kesempatan
berharga untuk banyak belajar. Pelajari hal-hal baru di dalam kelompok, yang
tak anda temui jika anda bekerja sendiri. Dengan demikian anda dapat lebih
mandiri untuk melakukan sesuatu di dalam tim.

Ingat, walau masing-masing anggota kelompok merupakan pribadi yang mandiri
dalam kelompok kerja sama, iklim saling menjatuhkan harus dibuang jauh-jauh.
Dan, anda juga perlu menyadari bahwa antara anda dan rekan lain adalah mitra
sejajar yang memiliki tanggung jawab bersama di dalam satu tim. Tentu tujuan
kelompok akan tercapai dengan baik jika komunikasi antar individu
berlangsung lancar.(Sumber: Unknown)

06 Mei 2011

Management Trainer ... Apakah Itu?

Pernah dengar istilah Management Trainer? Makhluk itu tak lain adalah para pekerja yang dikader untuk menjadi manajer profesional yang akan dipercaya memimpin perusahaan. Di Indonesia, memang tergolong profesi baru dan belum populer. Meski profesi ini sudah hadir beberapa tahun lalu.

Mungkin Anda berminat dengan profesi baru tersebut. Berikut kiat sukses menjadi Management Trainer. Anda simak!

Mental positif
Tanpa mental yang positif, Anda tak akan mampu mengenali potensi diri berikut mengembangkannya. Tanamkan hal ini, sebelum memulai usaha meraih sukses.

Belajar dan mengajar
Kemauan belajar yang tinggi, akan mempercepat upaya Anda untuk menjadi pintar. Jika sudah pintar, jangan pelit untuk mengajarkan pada orang lain. Ilmu justru bertambah, saat kita memberikannya pada orang lain.

Menguasai teknik dan sistem
Mengatur berbagai hal berkaitan dengan perusahaan, menjadi tugas utama seorang manajer. Pimpinan yang baik, bukanlah orang yang hanya berteori di belakang meja dan papan tulis. Namun orang yang memiliki pengalaman sebagai anak buah yang sukses.

Penjualan

Kendati tak ada target penjualan, Anda mesti ingat bahwa penghasilan ditentukan dari hasil penjualan produk pada saat masa pelatihan. Jika Anda merasa butuh penghasilan tinggi, jangan ragu untuk berupaya meingkatkan volume penjualan.

Nah, bila Anda sudah mengenal kiat di atas, dan Anda kebetulan ingin menggeluti profesi tersebut maka coba Anda praktekkan tips di atas. Sukses untuk Anda. Semoga!! (Sumber:GloriaNet-GCM/SW)

04 Mei 2011

Look into my eye, ...

Judul : Kisah Hidup Tsabit bin Ibrahim
Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya..
Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, "Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam".
Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka"
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata," Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?"
Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan ?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?"
Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!"
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala".Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,"Assalamu'alaikum..."
Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.
Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?
Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta . Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah".Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?"Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?" Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".
Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya... Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".
Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.
(sumber:unknown)

02 Mei 2011

Kontrak Kerja(2)-final

KENALI TUJUAN ANDA BEKERJA
Sebelum tanda tangan kontrak, kenali dulu tujuan dan kebutuhan anda bekerja. Beberapa pekerjaan yang bermobilitas tinggi seakan menuntut anda mendedikasikan 24 jam sehari untuk pekerjaan.

Beban berlebih atau jam kerja tak terkendali tentu tak akan disebut dalam kontrak kerja. Salah-salah perusahan dianggap memeras karyawan. “ Kalau hal seperti itu terjadi,hadapilah dengan positive thingking, “ ujar Imaniati. Lebih baik ambil manfaat yang bisa didapat dari pekerjaan yang menantang itu.

Saat karier makin berkembang dan atasan anda minta atasan anda minta anda melakukan tugas di luar job desc, lakukan semampunya. “Anggap saja anda sedang belajar sesuatu yang baru. Hal ini akan memberi nilai positif pada diri anda.”

Bagi anda yang sudah bertekad untuk manjadi karyawan yang selalu haus ilmu dan tak berkeberatan untuk bekerja keras, Anda justru bisa memanfaatkannya untuk memperkaya wawasan dan pengalaman.


HARUS BERANI BERTANYA

Kontrak kerja resmi dibuat sedemikian rupa dan mengandung bahasa hukum, yang cukup kental. Anda perlu tahu arti yang tekrkandung di setiap kalimat dengan baik. Jangan sampai ada hal-hal yang tak anda ketahui maksudnya. “ Pahami semua kalimat yang tertulis. Jika ada yang tidak anda pahami, jangan malu untuk minta klarifikasi.”

Mita, 31 tahun, baru saja mendapat promosi. Dalam kontrak, tertulis jabatan, “ Sales dan/atau Marketing Manager.” Mita yang lebih suka pemasaran , menyatakan keberatan atas tugas sales. Setelah bernegoisasi, sang atasan tidak berkeberatan mengganti kontrak promosi Mita.

Mendapat promosi, sebaiknya juga dilandasi dengan kontrak yang sesuai. “Selain sebagai pengakuan atas jabatan baru, kontrak baru juga jadi jaminan keamanan, ‘ kata Imaniati. “ Untuk menghindari risiko posisi yang baru anda dapatkan diambil oleh orang lain.”

BERTINDAK POSITIF
Bukan pertama kalinya seorang pegawai tak punya bukti tertulis mengenai statusnya sebagai karyawan. Dengan kata lain, ia tak pernah tanda tangan kontrak kerja.

Seperti pengalaman Dita, 28 tahun, media planner di sebuah perusahaan periklanan yang kini sudah ditutup. “ Saat masa percobaan selesai, saya tak diminta menandatangani kontrak kerja. Beberapa bulan berlalu, saya tak kunjung disodori kontrak kerja. Lau saya bertanya pada seorang rekan yang sudah 3 tahun bekerja. Rupanya ia juga sama sekali tidak pernah melihat kontrak ekrjanya, “ kata Dita. Kebetulan, ia mendapat pekerjaan di perusahan lain yang lebih mapan. Tak lama setelah Dita keluar , terbetik kabar kalau mereka gulung tikar.

“ Reputasi perusahan juga sangat menentukan, ‘ ungkap Imaniati. Perusahaan yang punya reputasi bagus biasanya tak menganggap sepele kontak kerja.Pada beberapa perusahaan kecil yang kurang tertib administrasinya, kasus yang dialami Dita bisa terjadi.

“Karena kontrak kerja sangat penting, jangan takut untuk menanyakannya, “ saran Imaniati. Bisa jadi perusahaan akan memberi alasan tak sempat membuat atau tak punya standar baku kontrak kerja. “Bersikaplah proaktif dengan mengajukan draft kontrak kerja, “ saran Imaniati. Dengan demikian, perusahaan bisa membuatkan kontrak kerja yang anda perlukan.

TIPS NEGOISASI KONTRAK
• Siapkan dengan matang. Buat survey kecil-kecilan diantara teman seprofesi tentang job descriptions, gaji, bonus yang didapat. Negoisasikan saat perusahan membuat kontak kerja untuk anda.
• Jangan kelihatan terlalu antusias. Meski anda sedang putus asa mencari pekerjan baru, tak perlu diperlihatkan. Perusahaan akan mengira Anda pasti mau menerima pekerjaan apa saja.
• Jangan hanya pikirkan uang. Mungkin ada hal lain selain gaji. Mungkin perusahaan tak menawarkan gaji yang memukau mata, tapi pikirkan kesempatan dan pengalaman lain yang bisa diperoleh untuk memperkaya wawasan
• Jangan bohong. Berikan keterangan yang jujur saat negoisasi kontrak kerja. Karena jika ketahuan, justru akan menyusahkan anda di kemudian hari.


KEMANA HARUS MENGADU ?
Punya masalah dengan kontrak kerja ? Atau masalah ketenagakerjaan lainnya ? Departemen Tenaga Kerja telah menyediakan layanan konsultasi untuk umum.Tanpa proses yang berbelit dan tak dipungut bayaran. Hubungi :

sumber:
Bagian Humas Depnaker
Jl. Gatot Subroto Kav. 51, Jakarta
Telp 021- 525 2748

Kontrak kerja (1)

Mengapa kontrak kerja itu penting ? Apa yang harus diperhatikan dalam kontrak kerja ? Sebelum mengoreskan tanda tangan pada kontrak kerja, simak wawancara dengan Imaniati Sasono, S Psi , Associate Consultant di IQ Recruitment & Training Specialist di Jakarta

Pengikat Anda Dengan Perusahaan

Pada dasarnya kontrak kerja adalah dokumen atau perjanjian tertulis antara perusahaan dengan karyawan. Dalam kontrak kerja tertulis hak dan kewajiban masing-masing pihak. Dokumen resmi ini diangap sebagai bukti ikatan antara karyawan dengan perusahaan, yang menyangkut perlindungan terhadap hak-hak karyawan. Lebih dari itu, yang paling penting, kontrak kerja juga memperlihatkan kewajiban yang harus Anda berikan kepada perusahaan.

Bentuk kontrak kerja sangat beragam,tergantung dari perusahaan masing-masing. “Selain kontrak kerja, ada juga yang disebut confirmation letter , “jelas Imaniati Sasono, S. Psi. Confirmation letter atau surat pengantar yang punya kedudukan yang sama dengan kontrak kerja. Meskipun terlihat singkat, Anda tetap harus membacanya dengan teliti. Pastikan hak dan tanggung jawab Anda tertulis secara terperinci. “Jika dalam confirmation letter tidak disebutkan job descriptions yang jelas, Anda tidak bisa menuntut apa-apa jika kelak terjadi perubahan,” ujar Imaniati.

Sebaiknya Anda membaca dengan hati-hati setiap kalimat dalam kontrak kerja. Terutama hal-hal yang menyangkut tugas dan tanggung jawab professional. Saat menandatangani dokumen ini, berarti anda setuju ‘mengikatkan diri’ dengan perusahaan. Jadi pahami juga tata tertib perusahaan dengan benar, agar anda tak mendapat kesulitan di kemudian hari.

Biasanya kontrak erja dibuat dalam 2 eksemplar, bisa lebih. Kontrak kerja ditandatangani oleh kedua belah pihak . Anda ajan menerima satu berkas. Dokumen ini harus disimpan dengan baik karena merupakan bukti tertulis bagi anda.

Yang Tersurat Dalam Kontrak Kerja

“Bentuk kontrak kerja berbeda antara perusahaan satu dengan perusahaan lain,”jelas jelas Imaniati Sasono, S. Psi. Tetapi meskipun demikian, ada beberapa hal pokok yang ada di dalamnya.

1. Pengangkatan. Sudah jelas, dalam kontrak kerja harus tertulis jabatan dan sebutan yang akan anda pangku. Setelah itu, tertulis rincian tugas dan tanggung jawab posisi tersebut. Perhatikan job descriptions baik-baik. Jangan sampai saat sudah aktif bekerja, Anda mengeluh karena dibebani pekerjaan yang ‘tak sesuai dengan job descriptions’.

2. Imbalan atas jasa. Ini istilah keren dari gaji. Pastikan bilangan gaji yang diterima tertulis dengan jelas.Hindari persoalan di kemudian hari hanya karena hanya karena ada beda jumlah rupiah dalam kontrak dan kenyataannya. Bahkan, jika ada perubahan karena kondisi khusus ( misalnya masa percobaan ), Anda harus tahu dengan pasti. “Jika anda dijanjikan kenaikan gaji setelah selesai menjalani masa percobaab, sebaiknya semuanya tertulis dengan jelas dalam kontrak kerja,” lanjut Imaniati lagi. Selain itu, fringe benefit atau tunjangan juga harus disebutkan, jika ada.

3.Jadwal kerja. Dalam kontrak kerja akan tertulis jadwal kerja yang harus anda patuhi. Jam kerja resmi, termasuk jam lembur atau shift malam jika ada. Lokasi kerja juga harus disebutkan dengan jelas. Jangan sampai anda keluar dari pekerjaan , hanya gara-gara lebih banyak melewatkan waktu di pabrik di lokasi terpencil. Dan hampir tak pernah duduk di kantor yang ber-AC dingin!

4.Tata Tertib dan disiplin. Ini termasuk bagian yang amat penting. Perusahaan perlu menuliskan hal ini agar para karyawan tak masuk dan pulang kantor seenaknya. Pada beberapa perusahaan tertentu, tata tertib dan disiplin ini menyangkut informational proprietary yang harus anda jaga rapat-rapat dan tak boleh’bocor’ ke tangan perusahaan lain. Apalagi ke perusahaan saingan.

5. Pemutusan hubungan kerja. Pasal ini membahas kondisi yang bisa menyebabkan seorang karyawan dipecat. Jika terjadi pelanggaran oleh karyawan, perusahaan berhak “ merumahkan” karyawannya itu. Karena itu, karyawan perlu tahu pasal-pasal itu.

(Sumber: Majalah Cosmopolitan)