30 April 2011

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan

tubuhnya epanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak

bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu
menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya
selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin

sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju,

makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya

terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru

bertambah tebal.

Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah
tamat. Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor

Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar
menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat
sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat

diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si

Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan

mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak

dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa

mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku pada

bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas

lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak

kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber
suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian

menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang

masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung

bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang

ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita

bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran:

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.

2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.

3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa

berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.

4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan

terburu nafsu, agar tidak kebablasan.

5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Sumber : swausaha@yahoogroups.com

0 comments: