Ini bukan pepesan kosong. Carut marutnya permasalahan bangsa saat ini diakui bermuasal dari komunitas terkecil yang ada di masyarakat, yaitu keluarga. Hal ini tercermin dari rendahnya kepedulian dan komitmen tentang kualitas sebuah keluarga. Bahkan keluarga sebagai salah satu elemen bangsa, sudah mengidap infantilisme dan psikopati yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan efektif normal dan selalu menjadi problem bagi yang lain.
Apalagi sudah menjadi rahasia umum cukup banyak eksekutif maupun sosok publik yang karirnya cemerlang, tapi keluarganya 'banyak', tidak harmonis. Ada kasus PIL atau WIL.
Dan tampaknya pemerintah menganggap permasalahan ini sudah sangat serius. Buktinya, menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni nanti, 'peringatan' yang disampaikan lumayan menyeramkan. Alhasil, solusi yang ditawarkan tak ada pilihan lain kecuali: Back to basic. Kembali ke keluarga.
Semudah itukah? Tedy Fardiansyah, pengamat investasi, menilai keputusan untuk menciptakan karir yan bagus dan keluarga yang harmonis kerap menimbulkan ekses menyimpang. Tapi menyikapi ekses tersebut akan tergantung kepada masing-masing individu.
Sebagai pribadi yang sering bertemu banyak orang dari berbagai kalangan, eksekutif itu menyadari dirinya harus menyebar jejaring. Sedangkan network merupakan investasi yang paling berharga dan dampaknya bisa dirasakan di masa depan. Karena itu Tedy tidak membedakan gender dalam membentuk network tersebut.
Namun Tedy memiliki kiat agar karir dan keluarga bisa berjalan seimbang. Resepnya, kembali pada komitmen awal ketika menikah yakni ingin membentuk keluarga sesuai yang digariskan agama. "Untuk itu, saya tidak membenarkan untuk diri saya sendiri untuk melakukan hubungan khusus dengan lawan jenis."
Sebagai kepala rumahtangga, ia tidak hanya bertanggungjawab terhadap kebutuhan materi saja, tapi juga harus memberikan rasa aman bagi istri dan anak-anaknya.
Kiat untuk menghindari terjadinya hubungan dengan WIL juga penting. Misalnya dengan membangkitkan empati sendiri, tentang bagaimana nasib istri dan anak-anaknya apabila melakukan hubungan seperti itu.
Dia tidak menampik PIL dan WIL sudah menjadi fenomena umum. Tapi Tedy yakin betul di masyarakat masih tetap ada norma dan norma itu tidak luntur. "Norma masih belum luntur. Hanya kondisinya terpulang kepada masing-masing orang."
Rumahku surgaku. Inilah yang 'diusung' pesohor super sibuk seperti Ikang Fawzi.
Pria yang menikahi artis cantik Marissa Haque pada 12 April 1987 ini, selalu merindukan rumah, tempatnya berbagi kasih sayang dengan kedua putrinya yang sudah beranjak remaja dan istri tercintanya.
Ibarat oksigen
Ketergantungannya pada keluarga yang sangat kuat membuat Ikang menghargai pentingnya kasih sayang keluarga untuk mendukung kariernya.
Bahkan bagi wakil ketua DPD REI DKI Jakarta ini, istri dan buah hatinya diibaratkan seperti oksigen untuk hidupnya."Saya katakan pada mereka [istri dan anak-anaknya], kalau saya membutuhkan mereka. Saya tidak bisa tegar tanpa mereka,"ujar aktor bernama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi ini.
Lebih dari segalanya, Ikang yang juga Wakil Ketua Promosi Bisnis KADIN Pusat ini bersandar pada agama untuk mengokohkan fondasi rumah tangganya. Disinggung tentang PIL atau WIL, ia berujar, "Saya takut Tuhan. Icha [Marissa Haque] juga takut Tuhan. Dan kami saling percaya."
Kepergian Icha selama tiga tahun ke AS untuk bersekolah sebenarnya bisa menjadi kesempatan besar timbulnya perselingkuhan. Tapi, sekali lagi Ikang bersyukur. "Allah sayang sama saya. Tiap hari saya minta tolong pada Tuhan. Allah tidak pernah tidur."
Selain bersandar pada agama, kedekatan dengan keluarga tampaknya ingin selalu dipupuk olehnya."Saya ingin anak-anak memandang saya sebagai teman mereka, hanya saja saya punya pengalaman yang lebih baik, karena lahir duluan," tuturnya.
Namun artis ini tidak ingin menghakimi eksekutif yang terjebak tren 'selingkuh itu indah'. Kalau itu terjadi, kata Ikang, ibarat rumahnya istana, tapi isinya air mata. Rumah itu pabrik. Dan keluarga adalah produknya. "Kalau pabrik baik dan bersih, tentu produknya juga baik," tutur putra diplomat ini.
Prinsip serupa agaknya dijalankan juga oleh Harry Pontoh, wakil Sekjen Asosiasi Advokat Indonesia (AAI). Yang penting karir dan keluarga harus seimbang. Salah besar bila salah satu dikorbankan."Satu sama lain tidak dipisahkan, harus seiring sejalan,"
katanya.
Meskipun sedikit, waktu harus tetap diberikan kepada keluarga. Tak jarang mantan wartawan ini mengerjakan tugas di rumah pada hari libur meski terganggu oleh suasana rumah. "Tapi bagi saya nggak masalah karena komitmen saya sudah seperti itu."
Menyinggung keretakan keluarga akibat perselingkuhan, menurut Harry hal itu tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Akar permasalahan harus diketahui terlebih dahulu.
"Ada faktor penentu. Misalnya, dia tidak mendapat kebahagian dari keluarga sehingga mencari konpensasi. Tapi apapun namanya, bahwa orang tersebut memang tidak mampu membangun kualitas keluarganya," paparnya.
Mungkin karena itu pula Iis Dahlia, penyanyi dangdut dan ibu dua anak ini, kini sangat hati-hati menjaga bahtera perkawinannya setelah sempat kandas dengan Dadang Indrajaya yang dinikahinya lima tahun.
Sudah dua tahun terakhir ini artis sinetron itu membina rumahtangga keduanya dengan Satrio Dewantoro, seorang pilot.
Sebelum menikah, kata Iis, dia dan pasangannya membuat komitmen. Ada batas rambu-rambu yang bisa dilanggar dan dimaafkan. Ada pula yang tidak bisa dimaafkan.
Kejadian dengan suami pertamanya yang membuahkan seorang anak perempuan, Salshadilla Juwita Indrajaya, disebutkan karena sang suami melanggar rambu-rambu yang tak bisa dimaafkan. Akhirnya Iis pun memilih berpisah dengan segala risikonya.
"Percuma tetap mempertahankan perkawinan kalau hati kita sudah tidak sreg dengan pasangan. Lebih baik berpisah. Bagi saya itu jalan terbaik," tandasnya.
Selama dua tahun menjanda, berbagai godaan kerap muncul sampai akhirnya ada seorang pria yang benar-benar serius ingin hidup bersamanya.
"Setelah melalui proses dan menyetujui komitmen yang aku mau bila kami nanti menikah, akhirnya saya menerima dia. Dan sampai sekarang hidup kami bahagia, apalagi setelah melahirkan Devano," ujar perempuan kelahiran Indramayu 29 Mei 1972 ini.
Kini Iis disiplin membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Dalam sebulan dia bisa manggung sampai 15 kali, baik di Jakarta maupun daerah. Bila ada order menyanyi malam hari, dari pagi sampai siang diisi bersama suami dan anak. "Bila suami saya tidak terbang, kalau dapat order di luar kota biasanya saya tolak. Kami ingin bersama selalu. Dia kan suka terbang sampai berhari-hari."
Begitu juga saat libur besar, selalu berembuk dengan suami dan anaknya kemana ingin pergi.
Setali tiga uang dengan Nurul Qomaril Arifin yang menganggap keluarga adalah segalanya. Untuk itu, harus pandai-pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Misalnya ketika masih aktif syuting sinetron dan film, dia batasi sampai jam 22.00. “Paling lambat jam 10 malam aku sudah di rumah," ujar perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 ini.
Setiap pagi seperti ibu rumahtangga lainnya, Nurul juga menyiapkan sarapan sekeluarga, dan bekal dua orang anaknya ke sekolah. "Saya berupaya bekerja seperti pekerja kantoran, dari pagi sampai sore."
(Sumber: Bisnis Indonesia - 27/6/2004)

0 comments:
Posting Komentar