22 April 2011

Kerja dalam Suasana Rileks

Ruang kantor seperti apa, yang mampu mendorong para profesional atau karyawan bekerja nyaman dan optimal?

Pertanyaan ini mengemuka dalam sebuah diskusi kecil di kantor perusahaan konsultan dan riset properti PT Procon Indah beberapa tahun lalu. Dari diskusi itu muncul gagasan membuat ruang kerja lebih rileks, dan sebuah ruang yang didesain sedemikian rupa sehingga dapat menjadi tempat para karyawan melemaskan syaraf, otot, dan melepas unek-unek.

Perusahaan ini akhirnya benar-benar mewujudkan ruang kantor yang nyaman itu. Para arsitek dan ahli desain Procon kemudian mengatur ruang kantor itu dengan konsep terbuka. Hanya beberapa eksekutif puncak Procon yang diberi ruang kerja sendiri, yang tertutup. Karena betapapun, bos, tetap membutuhkan ruang privacy, meski ruang itu hanya lebih kurang lima kali lima meter persegi.

Selebihnya ruang kerja perusahaan ini, sekitar 700 meter persegi, dibiarkan terbuka. Tiap meja, hanya dipisahkan oleh sekat-sekat pendek dengan tinggi 1,4 meter, yang memungkinkan 150-an karyawan Procon di Jakarta, dapat saling berkomunikasi lebih mudah. Sebagian besar plafon kantor dibiarkan terbuka sehingga tampak urat sebagian perut kantor, barisan pipa dan jalur AC. Kantor ini juga menggunakan warna-warna hidup: biru, abu-abu, kuning, dan coklat muda -pada sekat meja kerja, plafon, lantai, dinding, dan pintu.

Sebagian besar dinding kantor menggunakan kaca transparan sehingga kantor terkesan luas. Dari dinding kaca terluar, para karyawan, yang sedang letih, nganggur atau hendak melamun, tinggal mengarahkan pandangan keluar. Di situ, terhampar pemandangan Jakarta, yang kaya warna: gedung-gedung pencakar langit, sentra bisnis, gerombolan pohon rindang, gelanggang olahraga Bung Karno sampai mal, dan kawasan marjinal Ibu Kota.

Didukung oleh letak gedung BEJ di daerah strategis, arsitek dan ahli desain tata ruang Procon lebih mudah merancang sudut-sudut pandang yang menawan. Dari sebuah jendela kecil misalnya, tercipta pemandangan tegak lurus ke Hotel Aston dan kawasan Semanggi yang riuh itu. Ada pula pemandangan yang tegak lurus ke Gelora Bung Karno, Sudirman Central Business District (SCBD) yang penuh hutan beton dan sebagainya. Para karyawan kantor ini, agaknya cukup "tahu diri" sehingga meja kerja mereka tidak dibiarkan semrawut. Tidak tampak kertas berhamburan, meski perusahaan konsultan dan riset properti ini, dalam kiprahnya, selalu akrab dengan kertas gambar, buku, koran, dan majalah.

Di antara semua ruang yang dibangun, agaknya ruang Forumlah yang paling menarik. Ruang seluas 60 meter persegi ini didesain khusus, untuk menjadi tempat rileks. Ada perpustakaan, sudut internet, komputer untuk bekerja, dapur, dan bar. Ada pula tempat baca, fasilitas audio visual yang lengkap serta fusball. Dana yang dihabiskan untuk menata dan mengisi ruang Forum ini lebih setengah milyar rupiah.

"Tempat ini memadukan konsep keseimbangan gaya hidup," tutur Rivan Abdulkadir, arsitek dan associate director Procon, baru-baru ini. "Istilahnya, kerja harus keras, main juga boleh keras. Kombinasi indah inilah yang kami raih selama ini, kerja yang profesional," tutur Rivan seraya tersenyum melihat rekanrekannya bermain fusball sambil berteriak-teriak.

Ruang ini kemudian menjadi bermakna ganda karena komunikasi antar-karyawan tampak terjalin lebih hidup. Tidak ada pula hierarki perusahaan, jenjang bos-anak buah, di ruang itu.

Rivan yang didampingi pejabat senior Procon, Dharmesti Sindhunata, menyebutkan, keliru kalau perusahaan selalu menjadikan karyawannya sebagai kuda pacu atau hanya disuruh kerja habis-habisan, tanpa ada waktu rileks.

Kenyataannya, tutur Rivan, dengan membangun ruang seperti ini, kinerja karyawan lebih bagus dan lebih bagus lagi. Ibaratnya, kalau sedang jenuh, letih atau sekadar ingin rileks, mereka punya outletnya yang pas. Pelepasan kejenuhan itulah, yang memberi kontribusi besar bagi tetap fitnya para profesional untuk bekerja.

Karyawan di sini, tambah Dharmesti, cukup profesional. Mereka tidak memanfaatkan ruang ini sebagai gelanggang berleha-leha. Mereka datang ke sini ketika hendak lebih rileks, kerap sambil membawa serta kerjaan. "Meski begitu, hasil kerja mereka tetap prima," tambah Dharmesti. "Keprimaan itu, di antaranya lahir karena suasana (ruang) kerja yang sehat."

PENATAAN ruang kerja ala Procon Indah hanyalah sebuah contoh konkret dari munculnya tren di DKI Jakarta untuk menghadirkan sebuah ruang kerja yang nyaman. Bekerja di Ibu Kota yang demikian hiruk-pikuk, ke mana-mana melewati kawasan macet, sungguh membutuhkan stamina, serta konsentrasi pikiran dan tenaga yang besar. Dalam situasi seperti inilah, para pekerja diajak lebih pandai mengatur irama dan suasana agar tidak diperbudak oleh pekerjaan.

Sejumlah perusahaan besar dan menengah di sini melakukan hal yang sama. Datanglah misalnya ke kantor Grup Gemala, Grup Bakrie, kantor-kantor bank berskala besar, kantor-kantor law firm papan atas, Anda akan menemukan suasana kantor yang nyaman. Ada galeri lukisan, ruang fitness, dan ruang bioskop mini. Alunan beberapa jenis musik kerap pula terdengar mengalun lembut, menyelinap ke semua ruang kerja.

Sayang, tidak semua perusahaan menengah ke atas di Jakarta dan sekitarnya, yang sungguh-sungguh menyadari bahwa ruang dan suasana kerja yang nyaman menyehatkan dan melahirkan prestasi kerja yang mencengangkan. Beberapa mega korporat, terkesan mengabaikan faktor menentukan ini. Ruang kerja mereka yang luas, ditumpuk dengan meja, kursi, dan orang.
(sumber:GloriaNet-GCM/KCM)

0 comments: