30 April 2011

Bukan Aku Tak Cinta

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya.
Pukul 18.30. Tinnn........... Tiiiinnnnn.............. !! Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah. Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.
"Mama, mama.... Mama, mama...." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama.
Mama diam saja.
Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?"
Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?"
Tiba-tiba... "Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!"
Mama membentak dengan suara tinggi.
Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar.
Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie salah apa?
Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?
Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.
TIN.... TIIIN........... ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. "Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya."

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.
Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam.
Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.

Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?
hmmm, sedihh yah :)

"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal".



(sumber:unknown)

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan

tubuhnya epanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak

bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu
menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya
selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin

sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju,

makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya

terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru

bertambah tebal.

Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah
tamat. Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor

Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar
menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat
sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat

diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si

Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan

mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak

dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa

mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku pada

bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas

lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak

kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber
suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian

menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang

masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung

bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang

ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita

bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran:

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.

2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.

3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa

berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.

4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan

terburu nafsu, agar tidak kebablasan.

5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Sumber : swausaha@yahoogroups.com

29 April 2011

Sebuah Kisah.....

Di sebuah desa terpencil, hiduplah sebuah keluarga petani yang miskin yang memiliki seorang anak laki-laki yang hampir menginjak remaja.
Suatu hari anak laki-laki itu memutuskan untuk merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik di tempat yang baru. Si petani sangat sedih karena tidak bisa memberi sesuatu pun untuk anaknya sebagai bekal.
Ketika si anak akan berangkat, ayahnya berpesan “Anakku, ayahmu adalah orang miskin. Bahkan ketika engkau akan merantau pun, ayah tidak punya sesuatu yang bisa kaubawa sebagai bekal. Ayah hanya bisa memberimu sebuah kotak tua. Bukalah kotak ini setelah kau mendapat sebuah pekerjaan. Selanjutnya, jagalah dirimu baik-baik. Kudoakan kau agar berhasil dikemudian hari.”
“Baik, Ayah. Akan kuingat dan kulaksanakan pesan Ayah,” jawab anak laki-laki tersebut sambil menerima kotak tua itu.
Maka pergilah anak laki-laki tersebut dengan berjalan kaki. Setelah beberapa hari sampailah si anak laki-laki itu di sebuah stasiun kereta api di sebuah kota kecil. Karena kehabisan bekal, maka dia mendatangi kepala stasiun untuk mencari pekerjaan. Karena melihat latar belakangnya yang hanya memiliki ijazah sekolah dasar, akhirnya dia mendapat pekerjaan sebagai penyapu stasiun dan diberi sebuah kamar berukuran kecil yang dahulunya berfungsi sebagai gudang.
Sudah seminggu dia bekerja dan sudah bisa menghidupi dirinya sendiri dari hasil kerjanya. Suatu hari dia teringat akan kotak dari ayahnya. Maka dibukanya kotak hitam kecil itu. Ternyata isinya adalah sebuah kunci hitam tua. Di kedua sisinya tertulis “Do More Than Expected From You”. Anak laki-laki tersebut bingung setelah membaca pesan tersebut. Tetapi karena ingat bahwa itu adalah pesan ayahnya maka dia berusaha melaksanakan isi pesan tersebut.
Mulai keesokan harinya, dia datang lebih pagi untuk bekerja. Dan selesai mengerjakan tugasnya, dia tidak lagi beristirahat tetapi berusaha membantu teman-temannya dan atasannya jikalau dia bisa membantu mereka. Anak laki-laki itu mulai disukai di tempat dia bekerja, dan banyak orang yang meminta bantuannya. Anak laki-laki itupun tidak pernah merasa bosan dan lelah membantu teman-temannya, semata-mata karena dia berusaha melaksanakan pesan ayahnya.
Atasan si anak laki-laki tersebut merasa puas dengan pekerjaannya dan karena melihat kesungguhannya dalam bekerja, akhirnya setelah bekerja selama enam bulan, anak laki-laki tersebut diangkat menjadi penjaga karcis.
Anak laki-laki tersebut senang dengan pekerjaan barunya. Akan tetapi pekerjaan barunya itu sama sekali tidak membuatnya sombong. Dia tetap ramah kepada teman-temannya dahulu sesama penyapu stasiun. Dia pun tetap membantu teman-temannya yang membutuhkan bantuannya.
Melihat kesungguhannya bekerja dan kerendahan hatinya terhadap orang lain, akhirnya kepala stasiun mengangkatnya menjadi pegawai stasiun setelah bekerja menjadi penjaga karcis selama satu tahun.
Keadaan itu terus berlanjut sehingga setelah lima tahun bekerja sebagai pegawai, anak laki-laki tersebut dipercaya oleh kepala stasiun untuk menggantikan jabatannya sebagai kepala stasiun. Kepala stasiun merasa bangga dengan hasil kerja anak laki-laki tersebut. Dan akhirnya kepala stasiun pun mendapatkan orang yang cocok sebagai penggantinya.
Anak laki-laki tersebut sangat berbahagia karena hasil pekerjaannya selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Dia diangkat menjadi kepala stasiun dalam usianya yang masih belia. Dia sangat bersyukur kepada ayahnya karena telah memberinya sebuah pesan yang sangat baik untuk masa depannya. Kini dia tidak lagi tinggal disebuah kamar berukuran kecil di sudut stasiun. Dia kini memiliki rumah baru yang cukup besar di dekat stasiunnya. Bahkan ayah dan ibunya dimintanya untuk tinggal bersamanya di kota.
Walaupun demikian, anak laki-laki tersebut tetap rendah hati dan ramah kepada semua karyawannya. Dia tetap tidak segan-segan untuk membantu siapa pun yang membutuhkan bantuannya. Itu karena pesan ayahnya “Do More Than Expected From You” telah tertanam baik di dalam dirinya.
(sumber:unknown)

28 April 2011

Kiat Berhadapan dengan Bos Baru

Pada kondisi tertentu kadang Anda dihadapkan pada kenyataan untuk merasakan kepemimpinan bos baru. Hal ini disebabkan antara lain bos yang lama dimutasikan atau pindah ke tempat lain. Atau bisa juga karena bos lama itu mengundurkan diri atau telah memasuki masa pensiun. Dengan hadirnya bos baru, kadang Anda merasa canggung dan asing. Karena umumnya gaya bos baru berbeda dengan bos yang dulu. Lalu bagaimana caranya agar lebih mudah kerjasama dengan bos baru?

Jangan kaget seandainya kepemimpinan bos baru jauh berbeda dengan bos terdahulu. Misalnya kalau bos lama cukup ramah dan santai, tiba-tiba Anda dihadapkan pada bos yang konservatif dan ketat dalam menetapkan aturan. Memang awalnya Anda akan ‘terkaget-kaget’ dengan gaya bos seperti ini. Tapi Anda juga harus menyesuaikan diri dengan ‘irama’ kerjanya. Karena memang setiap perubahan yang terjadi membuat Anda harus lebih banyak belajar dan beradaptasi.

Untuk itu, agar lebih mudah bekerja sama dengan bos baru, berusahalah untuk masuk ke dalam ‘alam pikirannya’. Pahami pandangan-pandangan serta rencana-rencananya. Serta pelajari ‘manuver’ nya. Jangan cepat-cepat mengambil sikap ‘anti’ pada bos baru. Beri kesempatan padanya untuk masuk ke lingkungan yang baru. Karena walaupun seorang bos, ia tetap membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dan mempelajari lingkungan yang baru dimasukinya, seperti halnya anak-anak buahnya menyesuaikan diri dengannya.

Ada baiknya Anda cari informasi mengenai bos baru tentang hubungannya dengan bawahan dan kebiasaan-kebiasaannya di tempat lama. Mungkin dengan mengetahui hal tersebut Anda lebih mudah untuk memahami gaya si bos baru. Dengan demikian, Andapun akan lebih mudah menjalin kerjasama dengan bos baru. Jangan sekalipun ‘keceplosan’ membandingkan bos baru dengan bos lama. Misalnya dengan mengatakan, “Dulu saya diberi waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan satu pekerjaan ini”.

Dan jangan sekalipun menunjukkan rasa ‘keberatan’ dan ‘keengganan’ ketika bos baru itu memerintahkan Anda untuk menyelesaikan tugas yang tidak biasa Anda kerjakan. Walau mungkin memang ‘agak’ keberatan tapi sebagai staf yang profesional dan bertanggung jawab, lebih baik Anda kerjakan tugas tersebut. Jika ada hal-hal yang kurang Anda pahami dengan perintahnya, jangan segan-segan untuk meminta penjelasan. Karena menjalin komunikasi yang baik dengan bos baru juga hal yang cukup penting. Dan komunikasi tersebut tidak terbatas dengan melaporkan atau menanyakan pekerjaan. Contohnya, ucapkan ‘greeting’ setiap kali bos datang dan tunjukkan wajah yang bersahabat plus senyum yang wajar.

Ingat, selain kemampuan Anda dalam menyelesaikan dan menangani pekerjaan, kemampuan untuk menyesuaikan diri dan membangun hubungan baik dengan bos juga sangat mempengaruhi penilaian bos terhadap Anda. Tapi tentu saja semua ini harus Anda lakukan dalam skala yang proporsional. Artinya jangan sampai anda terkesan sebagai 'penjilat' yang ingin cepat naik jabatan. Selamat bekerja sama dengan bos baru..! (sumber:GloriaNet-GCM/Ac)

25 April 2011

Ketidakpastian dan Peluang

Hampir semua dari kita pasti lebih suka terhadap hal yang pasti-pasti karena dengan demikian kita akan merasa lebih aman. Perasaan "aman" itu sendiri merupakan kebutuhan dasar kedua.

Menurut ahli motivasi Maslow kebutuhan dasar pertama atau kebutuhan paling mendasar adalah kebutuhan bukan hanya untuk hidup, tetapi juga kebutuhan untuk bisa survive: makan, air, udara, dan seks. Seks merupakan kebutuhan untuk meneruskan kehidupan, bukan melulu penyaluran nafsu badaniah! Jadi, keinginan untuk mendapatkan hal-hal yang pasti-pasti juga merupakan sesuatu yang menjadi kebutuhan utama manusia dalam kehidupan.

Dengan mempunyai keinginan tersebut sebetulnya kita berhadapan dengan paradoks karena kehidupan kita sehari-hari sendiri sudah penuh ketidak-pastian. Setiap kali bangun pagi, kita sudah menghadapi dunia yang penuh ketidak-pastian. Kita memang sudah membuat berbagai perencanaan, tetapi dapatkah (atau: beranikah) kita memastikan bahwa apa yang sudah terencana tersebut pasti 100 peren terlaksana sesuai dengan rencana yang sudah dibuat?

Mungkin komputer kita tiba-tiba disusupi virus. Atau anak kita yang segar-bugar ketahuan menderita sakit. Cek yang kita terima ternyata dananya kosong. Harga saham yang diperkirakan naik, eh, kok ya malah jadi turun. Rasa optimisme yang sudah kita bangun karena kita sudah demikian teliti menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan, mungkin saja tiba-tiba menjadi berantakan karena ada hal di luar dugaan yang menghantamnya. Apakah ketidak-pastian semacam itu membuat kita menjadi takut menghadapi masa depan?

Sebaiknya hal yang dapat menimbulkan pesimisme semacam itu dilihat dari sudut pandang lain: adanya ketidak-pastian semacam itu sebetulnya malah merupakan kemungkinan terjadinya berbagai hal lain. Bila ada kepastian, berarti hanya ada satu kemungkinan saja yang pasti terjadi dan pasti tidak akan ada kemungkinan lain yang akan terjadi. Sedang kalau tidak jelas (atau tidak pasti) apa yang akan terjadi, berarti yang mungkin akan terjadi ada banyak hal. Betul, kan?

Peluang

Memang, untuk mereka yang jeli dan dapat mengendalikan keadaan, kondisi ketidakpastian malah akan menimbulkan kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dari kondisi ketidakpastian itu akan dapat dicari berbagai peluang untuk diwujudkan menjadi hal-hal yang memuaskan.

Banyak orang yang beranggapan bahwa peluang yang baik hanyalah dimiliki oleh mereka yang berada "di depan" atau yang pertama kali mengenal peluang tersebut. Kita cenderung percaya bahwa mereka yang sudah melakukan suatu hal lebih dulu akan lebih beruntung dibanding dengan yang "datang belakangan" dan melakukan hal sama.

Harus diingat bahwa Stephen Covey, pakar yang mengemukakan tentang tujuh kebiasaan manusia yang amat efektif, memperkenalkan kita kepada "ciptaan pertama" dan "ciptaan kedua".

Ciptaan pertama adalah bentuk ketika suatu hal diciptakan atau dibentuk pertama kali, sedangkan ciptaan kedua adalah ketika hal itu dibentuk untuk waktu berikutnya. Jelas yang terakhir merupakan perbaikan dibanding dengan ciptaan pertama karena pasti sudah ada perbaikan sebagai hasil pengamatan pada kelemahan ciptaan pertama ditambah hal-hal yang diperkirakan merupakan perbaikan dari bentuk sebelumnya.

Contoh yang jelas adalah perkembangan bentuk dan fitur peralatan (TV, komputer, HP dan semacamnya), setiap kali selalu lebih baik dibanding dengan sebelumnya.

Mengapa bisa demikian, tentunya model-model terakhir dibuat setelah memperhatikan kelemahan tipe sebelumnya dan berdasarkan pengalaman memakai produk tipe tersebut kemudian didapatkan hal-hal yang harus diperbaiki, yang diterapkan pada tipe atau model keluaran belakangan.

Jadi, kita tidak perlu berkecil hati bila menjadi orang kesekian yang memasuki suatu bidang. Walaupun ada pepatah: "Burung pertama akan mudah mendapat cacing" (the ealy bird cathes the worm), tetapi ada suatu lembaga pendidikan yang pernah mengiklankan diri sebagai "We
are not the first, but the best !"

Peluang adalah suatu "situasi". Setiap kali suatu situasi akan dapat berubah. Suatu hal yang yang pada satu hari muncul sebagai peluang, di hari berikutnya mungkin sudah bukan merupakan peluang lagi. Di dunia yang mempunyai banyak perubahan dan banyak kemungkinan ini, ada berbagai macam peluang yang muncul. Kita memang harus jeli untuk melihatnya, kemudian menangkap dan memprosesnya.

Yang menjadi masalah memang bagaimana kita dapat "melihat" dan menangkap peluang yang "lewat" tersebut. Hal itu membutuhkan proses belajar, sampai kita dapat "mengendus" peluang mana yang sesuai dengan kemampuan kita untuk dapat memproses selanjutnya, sehingga peluang tersebut menjadi berdaya-guna. Layaknya semua proses belajar, pasti ada tahapan-tahapan ketika kita jatuh-bangun dulu sebelum akhirnya menjadi mahir. Seperti pernah disinggung di rubrik ini, proses belajar yang baik adalah seperti proses anak belajar berjalan. Walaupun awalnya selalu jatuh (samakanlah dengan pengalaman hidup ketika berkali-kali mengalami kegagalan), tetapi si anak tetap saja "ngotot" untuk bangkit lagi sampai akhirnya dapat berjalan di atas kakinya sendiri.

Hal lain yang perlu diperhatikan kalau kita menghadapi suatu peluang adalah melihat semua hal di sekeliling peluang tersebut secara menyeluruh. Banyak orang yang main tubruk saja ketika melihat suatu peluang di depannya, tanpa memperhatikan hal-hal yang mungkin menyebabkan sebaiknya kita tidak usah mengambil peluang tersebut.

Setelah satu peluang kita "tangkap", sebelum membuahkan suatu hasil, masih saja kita harus menerapkan kedisiplinan, kejelasan arah, ketekunan dan strategi-strategi tertentu. Tidak ada peluang yang langsung membuahkan hasil begitu kita tangkap. Masih harus ada proses panjang untuk sampai ke tahapan itu.

No Where atau Now Here

Yang menarik adalah membandingkan pandangan orang yang pesimis dan yang optimis. Yang pesimis mengatakan OPPORTUNITY IS NO WHERE - tidak ada peluang di mana pun. Sedang orang optimis selalu mengatakan OPPORTUNITY IS NOW HERE, peluang itu saat ini ada di sini. No where (tidak ada di mana pun) dan now here (sekarang ada di sini) jumlah dan urutan hurufnya sama persis. Hanya saja letak huruf "w" yang menyatu dengan kata yang di depan atau yang menyatu dengan kata yang di belakanglah yang membedakan artinya.

Itu jelas berarti bahwa sudut pandang seseorang lah yang memastikan bahwa peluang, atau kesempatan, itu tidak ada di mana-mana, atau memang ada di sini. Toh bentuk peluangnya sama, tempat dan situasi yang dihadapi juga sama - hanya yang cukup jeli dan punya pengharapan (= optimis) dapat mengenalinya sebagai peluang yang harus ditangkap dan digarap, sedang yang lain tidak melihatnya sama sekali.

Begitu peluang sudah berada di dalam dekapan kita, kita tetap saja harus berusaha. Di atas sudah disinggung mengenai kedisiplinan, kejelasan arah, ketekunan dan strategi-strategi untuk mengolahnya menjadi suatu hasil yang berdaya-guna. Untuk membicarakan hal itu ada cerita yang menarik. Di suatu kerajaan, seorang raja berpikir: "Aku ini 'kan raja. Masa iya sih, tak dapat mengusahakan cara yang paling mudah untuk mendapatkan hasil dengan segera?"

Dikumpulkannya semua kaum cerdik-pandai dari seluruh pelosok negeri untuk menemukan cara seperti yang dipikirkannya. Setelah tenggat waktu yang ditentukan, mereka menghadap dengan membawa buku setebal 100 halaman, berisi jawaban atas kemauan baginda. Raja menerima buku tersebut, tetapi tidak puas. "Gila apa, masa yang namanya cara yang paling mudah harus dicapai dengan membaca dan menghapal isi buku setebal ini? Itu namanya menyengsarakan diri! Cari cara yang lebih baik!"

Mereka berkumpul kembali, bermalam-malam membahas keinginan baginda. Akhirnya mereka mengumumkan bahwa jawabannya sudah ditemukan. Singkat, sesuai keinginan sang raja. Pada puncak acara satu pertemuan akbar yang diliput seluruh media massa dan stasiun TV (eh, emang sudah ada, ya?), diserahkanlah satu lembar kertas yang segera dibuka baginda dan dibacanya keras-keras. Isinya: "Tidak pernah ada makan siang gratis!" (diterjemahkan dari: There is no FREE lunch).

Apakah Anda setuju dengan "penemuan" para cerdik-pandai di kerajaan itu? Apakah Anda berpikir bahwa semua orang yang kita kenal: Aburizal Bakrie, Ciputra, SBY, JK, Hasyim Muzadi, Gus Dur, Rizal dan Andi Mallarangeng dengan mudah dan dengan begitu saja meraih nama besar mereka? Pernahkah Anda berpikir bahwa mereka ini selalu bersusah-payah mengalahkan diri-sendiri ketika datang godaan untuk tidak bertekun, tidak berkonsentrasi terhadap sasaran yang mereka kejar?

Pernahkah Anda berpikir bahwa mereka sering menghabiskan waktu 14 jam sehari untuk mencari jawab atas persoalan yang harus mereka pecahkan? Menghasilkan satu keberhasilan setelah bertubi-tubi didera kegagalan?

Untuk orang-orang seperti mereka satu kegagalan bukanlah akhir segalanya. Orang yang berhasil selalu akrab dengan kegagalan. Untuk mereka kegagalan, seperti pepatah, adalah "keberhasilan yang tertunda". Mereka menghayati dan memahami hal itu. Satu kegagalan akan dipelajari untuk didapatkan manfaatnya sehingga dapat menjadi pelajaran untuk langkah-langkah selanjutnya.

Seorang motivator memberi perumpamaan menarik. Orang seperti mereka tidak pernah hanya duduk-duduk saja dan tidak berbuat apa-apa ketika ditimpa suatu masalah. Tuhan sudah menentukan bahwa satu-satunya jenis makhluk yang boleh duduk-duduk saja dan mendapatkan hasil maksimal hanya ada satu di dunia ini: unggas - termasuk ayam yang amat kita kenal itu (yang mengerami telur-telurnya)!

Sumber: Ketidakpastian dan Peluang oleh Widyarto Adi Ps, Psi, MM Psikolog, Trainer

22 April 2011

Kerja dalam Suasana Rileks

Ruang kantor seperti apa, yang mampu mendorong para profesional atau karyawan bekerja nyaman dan optimal?

Pertanyaan ini mengemuka dalam sebuah diskusi kecil di kantor perusahaan konsultan dan riset properti PT Procon Indah beberapa tahun lalu. Dari diskusi itu muncul gagasan membuat ruang kerja lebih rileks, dan sebuah ruang yang didesain sedemikian rupa sehingga dapat menjadi tempat para karyawan melemaskan syaraf, otot, dan melepas unek-unek.

Perusahaan ini akhirnya benar-benar mewujudkan ruang kantor yang nyaman itu. Para arsitek dan ahli desain Procon kemudian mengatur ruang kantor itu dengan konsep terbuka. Hanya beberapa eksekutif puncak Procon yang diberi ruang kerja sendiri, yang tertutup. Karena betapapun, bos, tetap membutuhkan ruang privacy, meski ruang itu hanya lebih kurang lima kali lima meter persegi.

Selebihnya ruang kerja perusahaan ini, sekitar 700 meter persegi, dibiarkan terbuka. Tiap meja, hanya dipisahkan oleh sekat-sekat pendek dengan tinggi 1,4 meter, yang memungkinkan 150-an karyawan Procon di Jakarta, dapat saling berkomunikasi lebih mudah. Sebagian besar plafon kantor dibiarkan terbuka sehingga tampak urat sebagian perut kantor, barisan pipa dan jalur AC. Kantor ini juga menggunakan warna-warna hidup: biru, abu-abu, kuning, dan coklat muda -pada sekat meja kerja, plafon, lantai, dinding, dan pintu.

Sebagian besar dinding kantor menggunakan kaca transparan sehingga kantor terkesan luas. Dari dinding kaca terluar, para karyawan, yang sedang letih, nganggur atau hendak melamun, tinggal mengarahkan pandangan keluar. Di situ, terhampar pemandangan Jakarta, yang kaya warna: gedung-gedung pencakar langit, sentra bisnis, gerombolan pohon rindang, gelanggang olahraga Bung Karno sampai mal, dan kawasan marjinal Ibu Kota.

Didukung oleh letak gedung BEJ di daerah strategis, arsitek dan ahli desain tata ruang Procon lebih mudah merancang sudut-sudut pandang yang menawan. Dari sebuah jendela kecil misalnya, tercipta pemandangan tegak lurus ke Hotel Aston dan kawasan Semanggi yang riuh itu. Ada pula pemandangan yang tegak lurus ke Gelora Bung Karno, Sudirman Central Business District (SCBD) yang penuh hutan beton dan sebagainya. Para karyawan kantor ini, agaknya cukup "tahu diri" sehingga meja kerja mereka tidak dibiarkan semrawut. Tidak tampak kertas berhamburan, meski perusahaan konsultan dan riset properti ini, dalam kiprahnya, selalu akrab dengan kertas gambar, buku, koran, dan majalah.

Di antara semua ruang yang dibangun, agaknya ruang Forumlah yang paling menarik. Ruang seluas 60 meter persegi ini didesain khusus, untuk menjadi tempat rileks. Ada perpustakaan, sudut internet, komputer untuk bekerja, dapur, dan bar. Ada pula tempat baca, fasilitas audio visual yang lengkap serta fusball. Dana yang dihabiskan untuk menata dan mengisi ruang Forum ini lebih setengah milyar rupiah.

"Tempat ini memadukan konsep keseimbangan gaya hidup," tutur Rivan Abdulkadir, arsitek dan associate director Procon, baru-baru ini. "Istilahnya, kerja harus keras, main juga boleh keras. Kombinasi indah inilah yang kami raih selama ini, kerja yang profesional," tutur Rivan seraya tersenyum melihat rekanrekannya bermain fusball sambil berteriak-teriak.

Ruang ini kemudian menjadi bermakna ganda karena komunikasi antar-karyawan tampak terjalin lebih hidup. Tidak ada pula hierarki perusahaan, jenjang bos-anak buah, di ruang itu.

Rivan yang didampingi pejabat senior Procon, Dharmesti Sindhunata, menyebutkan, keliru kalau perusahaan selalu menjadikan karyawannya sebagai kuda pacu atau hanya disuruh kerja habis-habisan, tanpa ada waktu rileks.

Kenyataannya, tutur Rivan, dengan membangun ruang seperti ini, kinerja karyawan lebih bagus dan lebih bagus lagi. Ibaratnya, kalau sedang jenuh, letih atau sekadar ingin rileks, mereka punya outletnya yang pas. Pelepasan kejenuhan itulah, yang memberi kontribusi besar bagi tetap fitnya para profesional untuk bekerja.

Karyawan di sini, tambah Dharmesti, cukup profesional. Mereka tidak memanfaatkan ruang ini sebagai gelanggang berleha-leha. Mereka datang ke sini ketika hendak lebih rileks, kerap sambil membawa serta kerjaan. "Meski begitu, hasil kerja mereka tetap prima," tambah Dharmesti. "Keprimaan itu, di antaranya lahir karena suasana (ruang) kerja yang sehat."

PENATAAN ruang kerja ala Procon Indah hanyalah sebuah contoh konkret dari munculnya tren di DKI Jakarta untuk menghadirkan sebuah ruang kerja yang nyaman. Bekerja di Ibu Kota yang demikian hiruk-pikuk, ke mana-mana melewati kawasan macet, sungguh membutuhkan stamina, serta konsentrasi pikiran dan tenaga yang besar. Dalam situasi seperti inilah, para pekerja diajak lebih pandai mengatur irama dan suasana agar tidak diperbudak oleh pekerjaan.

Sejumlah perusahaan besar dan menengah di sini melakukan hal yang sama. Datanglah misalnya ke kantor Grup Gemala, Grup Bakrie, kantor-kantor bank berskala besar, kantor-kantor law firm papan atas, Anda akan menemukan suasana kantor yang nyaman. Ada galeri lukisan, ruang fitness, dan ruang bioskop mini. Alunan beberapa jenis musik kerap pula terdengar mengalun lembut, menyelinap ke semua ruang kerja.

Sayang, tidak semua perusahaan menengah ke atas di Jakarta dan sekitarnya, yang sungguh-sungguh menyadari bahwa ruang dan suasana kerja yang nyaman menyehatkan dan melahirkan prestasi kerja yang mencengangkan. Beberapa mega korporat, terkesan mengabaikan faktor menentukan ini. Ruang kerja mereka yang luas, ditumpuk dengan meja, kursi, dan orang.
(sumber:GloriaNet-GCM/KCM)

17 April 2011

kepada sahabat2ku......

Kepada sahabat2ku yang ............LAJANG
Cinta ibarat kupu2. Makin kau kejar, makin ia menghindar. Tapi bila kau
biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.
Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti, tapi cinta itu
hanya istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerima. Jadi
tenang2 saja, jangan ter-buru2 dan pilihlah yang terbaik.

Kepada sahabat2ku yang ............TIDAK BEGITU LAJANG
Cinta bukannya perkara menjadi "orang sempurna"nya seseorang. Justru
perkara menemukan seseorang yang bisa membantumu menjadikan dirimu menjadi
sesempurnanya.

Kepada sahabat2ku yang ............TIPE PLAYBOY/PLAYGIRL
Jangan katakan "Aku cinta padamu" bila kau tidak benar2 peduli. Jangan
bicarakan soal perasaan2 bila itu tidak benar2 ada. Jangan kau sentuh hidup
seseorang bila kau berniat mematahkan hati. Jangan menatap kedalam mata bila
apa yang kau kerjakan cuma ber! bohong. Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah
membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat samasekali 'tuk
menerimanya saat ia terjatuh.........

Kepada sahabat2ku yang ............SUDAH MENIKAH Cinta bukan urusan "Ini
salahmu!", tapi "Maafkan aku, ya?". Bukan "Kau dimana!", melainkan "Aku
disini, kenapa?" Bukan "Kok bisa sih kau begitu!" tapi "Aku ngerti." Dan
juga bukan "Coba, seandainya kau..." akan tetapi "Terima kasih ya, kau
begitu....."

Kepada sahabat2ku yang ............BERTUNANGAN
Tolok ukur saling mencocoki bukanlah berapa lamanya waktu yang kalian
habiskan bersama, melainkan untuk berapa saling baiknya anda berdua.

Kepada sahabat2ku yang ............PATAH HATI
Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya dan akan mengiris luka
sedalam kau membiarkannya. Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi
melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmatnya.

Kep! ada sahabat2ku yang ............NAIF
Bagaimana kalau jatuh cinta: Mau jatuh jatuhlah tapi jangan sampai
terjerumus, tetaplah konsisten tapi jangan terlalu "ngotot", berbagilah dan
jangan sekali2 tidak fair, berpengertianlah dan cobalah untuk tidak
menuntut, siap2lah untuk terluka dan menderita, tapi jangan kau simpan semua
rasa sakitmu itu.

Kepada sahabat2ku yang ............MENGUASAI
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan orang lain, tapi akan
lebih sakit lagi mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia
denganmu.

Kepada sahabat2ku yang ............TAKUT MENGAKUI
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang. Itu malah
lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu. Tapi cinta
paling menyakitkan bila orang yang kau cintai samasekali tidak mengetahui
perasaanmu [terhadapnya].

Kepada sahabat2ku yang ............MASIH BERTAHAN
Hal menyed! ihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh
cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu dan
kau telah menyiakan ber-tahun2 untuk seseorang yang tidak layak. Kalau
sekarangpun ia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan
layak. Biarkan dia pergi, lupakan.......
(sumber:unknown)

13 April 2011

Kenali Sumber Inspirasi Sukses!

Tujuan manusia dalam hidup ini adalah mencapai sukses, baik dalam karir maupun kehidupan pribadi. Tapi sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasannya, kadang kita menemui jalan buntu. Rasanya untuk mencapai sukses yang diidamkan susah sekali. Boro-boro mendapatkan karir bagus, bisa bertahan kerja di suatu tempat saja rasanya sudah sangat beruntung.

Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit ini. Kondisi ini tak jarang mengendorkan semangat dan memudarkan gairah. Kesuksesan yang dicita-citakan sepertinya cuma impian belaka. Rasanya tak ada ‘stimulus’ untuk melangkah menuju kesuksesan. Tapi jangan manjakan rasa pesimis Anda. Apapun kondisinya masih ada jalan menuju sukses. Caranya? Yaitu dengan mencari sumber inspirasi sukses. Inspirasi tertentu konon dapat menggugah semangat kita untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Mau tau nggak apa aja sih sumber inspirasi sukses itu? Ternyata menurut pengakuan beberapa orang sukses, ada empat sumber inspirasi sukses bagi mereka, simak deh:

Kisah sukses di sekeliling Anda
Kalau Anda mau mengakui, sebenarnya banyak contoh sukses di sekeliling Anda. Nggak perlu jauh-jauh, di keluarga Anda mungkin ayah Anda termasuk orang yang sukses dalam karirnya. Atau mungkin ada tetangga Anda yang cukup sukses berwiraswasta. Atau lihatlah bos Anda yang cukup sukses memimpin anak buah dan perusahaan. Tanyakan pada mereka atau amati bagaimana perjuangannya meraih sukses. Mungkin Anda bisa meniru cara mereka menggapai sukses. Bukankah meniru jejak mereka yang sukses adalah hal positif?

Kisah sukses public figure atau orang terkenal

Coba Anda ikuti kisah sukses seorang tokoh terkenal yang menjadi idola Anda. Simak bagaimana dia bisa meniti kesuksesan. Anda bisa mengetahuinya lewat surat kabar, televisi, dan media lain yang memuat kisah suksesnya. Walau tidak berpengaruh langsung pada kesuksesan Anda, tapi kisah sukses orang-orang terkenal bisa menjadi sumber inspirasi Anda untuk meraih sukses.

Cerita fik
si
Coba Anda amati kisah-kisah fiksi seperti film, sinetron, novel, atau telenovela. Meski ceritanya banyak yang tak masuk akal, tapi ada beberapa yang menyelipkan pesan positif meraih sukses. Walau ceritanya mustahil dan ‘ajaib’ tapi mungkin bisa menjadi sumber inspirasi Anda.

Mimpi
Pernahkah Anda bermimpi menjadi orang yang kaya, terkenal, dan bahagia? Jika ya kembangkan mimpi Anda. Tidak selamanya mimpi itu buruk. Jika Anda terobesi akan mimpi Anda, Anda justru akan berusaha mewujudkannya. Bukankah kadang kesuksesan justru berawal dari sebuah mimpi dan khayalan?

Bagaimana dengan Anda sendiri? Sudahkah Anda menemukan inspirasi sukses Anda? Kalau sudah, inspirasi tersebut jangan cuma 'ditampung' dalam otak Anda. Berusahalah untuk merealisasikan inspirasi tersebut. Siapa tahu sukses itu memang milik Anda.
(Sumber:GloriaNet-GCM/Ac)

10 April 2011

Kenali Bahasa Tubuh Saat Kerja

Performance anda di kantor tidak hanya dipengaruhi oleh pembicaraan anda ataupun dari apa yang anda kenakan. Bahasa tubuh juga mempengaruhi performance anda secara keseluruhan. Karena secara tidak disadari, tubuh juga bisa menggambarkan kondisi perasaan anda yang sebenarnya. Nah lho?

Berbagai sikap, seperti cemas, ragu-ragu, malu dan takut, secara refleks bahasa tubuh anda akan mengungkapkannya, walaupun anda tidak mengatakannya. Lalu gimana dong sebaiknya bahasa tubuh yang benar? Kalau pengin tahu, di bawah ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan bahasa tubuh jika anda berhadapan dengan rekan kerja, boss atau siapa saja di kantor dalam suasana yang resmi. Simak deh..!

Posisi saat bicara
Posisi anda saat berbicara dapat disesuaikan dengan kondisi dan kesepakatan bersama, bisa berdiri atau duduk. Namun, biasanya kalau anda hanya melakukan pembicaraan berdua dengan boss, duduk berhadapan akan lebih baik.

Namun kalau anda memimpin rapat dan berhadapan dengan banyak orang, berdiri akan lebih baik daripada duduk. Karena energi yang dimiliki seseorang saat bicara sambil berdiri lebih besar daripada berbicara sambil duduk. Di samping itu, berdiri mengesankan lebih berwibawa dan menguasai keadaan. Sedangkan sikap duduk terus menerus menunjukkan sikap yang defensif.

Bersikap tenang
Pandanglah lawan bicara anda dengan tenang. Usahakan menatap setiap orang dengan penuh perhatian. Jika lawan bicara merasa diperhatikan, ia pun akan balik memperhatikan. Kontrollah nada dan cara bicara anda, jangan terlalu datar dan monoton karena akan membuat lawan anda bosan.

Tetapi juga jangan terlalu berapi-api, karena akan membuat lawan anda kesulitan mencerna pembicaraan anda. Selain itu anda akan mudah kelelahan. Saat anda harus mendengar, jangan mengetuk-ngetukkan jari, menggaruk-garuk kepala, menggigit-gigit kuku atau menatap kesana kemari. Karena sikap seperti itu menunjukkan perasaan yang gelisah dan tegang.

Bebaskan bagian depan tubuh anda
Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan kejujuran dan kredibilitas anda. Menutup mulut dan melipat tangan di perut menunjukkan kesan bahwa anda menutup diri dan melindungi diri dari sesuatu yang salah. Sedangkan bertopang dagu dan menguap mengesankan anda sedang tidak bersemangat, tidak antusias dan malas bertindak.

Pakailah busana sesuai kesempatan
Busana merupakan impresi pertama dari kepribadian anda. Ini juga berkaitan dengan bahasa tubuh anda. Busana yang anda kenakan menunjukkan sejauh mana anda melihat dan menghargai diri sendiri.Umumnya lingkungan kantor menuntut anda untuk berbusana yang mencerminkan kemauan bekerja dan berprestasi. Pilihlah mode yang dapat diterima dalam lingkungan kerja dan kenakan pakaian dengan jenis bahan yang nyaman, sehingga anda dapat berkonsentrasi penuh pada pekerjaan.

Hindari pakaian dengan bahan yang terlalu panas, model yang minim, ukuran yang kedodoran atau terlalu sempit, dan warna-warna yang terlalu mencolok. Kalau anda tetap nekat memakai jenis pakaian ini, anda akan tampak aneh. Bahasa tubuh anda pun akan menunjukkan bahwa anda sedang merasa tidak nyaman.

Sudah tahu kan bagaimana sebaiknya bahasa tubuh anda? Kalau ya, gunakan selalu bahasa tubuh yang mengesankan citra positif anda di kantor.
(sumber:GloriaNet)

KEKUATAN SEBUAH DOA

Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket.
Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar
diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan
sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan
makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar.

Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan
tentang keluarganya.

"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."

Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak
mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal
mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akan
bayar semua yang diperlukan Ibu ini."

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu, Pak. Saya
sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar
belanja?

"Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

"Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan
memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala
sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala
tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko
terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.

Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil,
"Aku tidak percaya pada yang aku lihat."

Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi
mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik
hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan
yang lain.

Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil
barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada
timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas
daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas
kumal itu tertulis sebuah doa pendek:

"Ya Tuhan, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan
segalanya ke dalam tanganMu."

Si Pemilik Toko terdiam.

Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan
gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya.
Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai
tersebut ternyata rusak.

Ternyata memang hanya TUHAN yang tahu bobot sebuah doa.

KEKUATAN SEBUAH DOA

Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu
saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu,
kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang Anda kenal.

Biarlah Tali silatuhrahmi ini tidak terputus, karena:

"DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA, Tanpa biaya,
tetapi penuh daya guna."

"Addu'au mukhul ibadah"

"Addua'u saiful mukminiiin"

(sumber:unknown)

09 April 2011

Kehendak Untuk Berubah

ketika aku masih muda dan bebas berhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia,
seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa
dunia tidak kunjung berubah.

maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu ku putuskan untuk hanya mengubah negriku
namun tampaknya,
hasrat itupun tiada hasilnya.

ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang yang paling dekat denganku.
tetapi celakanya, merekapun tidak mau diubah!
dan kini,
sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba ku sadari:

"andaikan yang pertama -tama kuubah adalah
Diriku,

maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin aku bisa mengubah
keluargaku.

lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki
Negriku

kemudian siapa tahu,
aku bahkan bisa mengubah
dunia!"

(sumber:unknown)

Kalau Bisa Dipersulit Mengapa Dipermudah?

Siapa tidak kenal ungkapan paling populer ini? Simak bagaimana penerapannya secara positif bagi pengembangan diri.

Jika Anda pernah berurusan dengan birokrasi swasta maupun pemerintah di Republik ini, Anda pasti tidak asing dengan ungkapan di atas. Itulah ungkapan yang menggambarkan buruknya sikap mental para birokrat yang seharusnya punya kredo melayani publik, namun sebaliknya justru mereka yang akhirnya harus dilayani publik. Tak heran jika kita mengurus perizinan atau proses tertentu, maka dengan segala kelihaiannya para birokrat itu akan mempersulitnya. Akibatnya urusan jadi bertele-tele dan benar-benar menyita waktu. Jika kita takluk, maka mau tidak mau harus merelakan sejumlah uang untuk mempercepat urusan tersebut. Kebiasaan ini pula yang melestarikan mental korupsi di masyarakat kita. Jadi, ungkapan kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah benar-benar menjadi penyakit mental yang luar biasa mengesalkan dan merugikan.

Kalau demikian adanya, bagaimana mungkin ungkapan tentang penyakit mental itu bisa diaplikasikan secara positif? Bukankah jika semakin banyak orang melakukannya, maka akan semakin runyam pula situasi yang kita hadapi?

Mari sejenak membayangkan, misalnya saja Anda yang cenderung mudah sekali kehilangan kepercayaan diri. Akibatnya, segala hal yang Anda lakukan jadi buruk hasilnya. Nah, seandainya saja ada formula yang membuat Anda bisa 'mempersulit' munculnya rasa kurang percaya diri
tersebut, kira-kira akankah pekerjaan yang Anda lakukan bisa memberi hasil lebih baik? Kemungkinan besar kinerja Anda akan lebih bagus hasilnya jika Anda bisa melakukannya dengan penuh percaya diri. Jadi titik perhatiannya adalah mempersulit munculnya rasa kurang percaya diri.

Ya, sesederhana itulah prinsipnya. Persulit munculnya hal-hal atau kebiasaan negatif. Dengan strategi itu, kemungkinan Anda bisa lebih matang dan efektif sebagai pribadi. Nah, hal atau kebiasaan negatif apa saja yang harus dipersulit atau tidak boleh dipermudah kemunculannya? Berikut uraian ringkasnya:

1. Negative Thinking

Pola pikir negatif adalah pola pikir yang dipenuhi oleh sikap apriori, prasangka, ketidakpercayaan, kecurigaan, dan kesangsian yang umumnya tanpa nalar maupun tanpa dasar sama sekali. Umumnya pola pikir negatif adalah cara-cara memandang suatu persoalan dengan mengabaikan rasionalitas, logika, fakta, atau informasi yang relevan. Sungguh pun begitu, rasionalitas pun bisa terjerumus dalam kerangka berpikir negatif. Artinya, seseorang bisa memanfaatkan rasionalitasnya untuk memandang secara negatif. Ini justru lebih berbahaya lagi karena negativisme ini justru banyak muncul di kalangan terdidik yang belum tercerahkan dan matang sikap mentalnya. Dampak buruk dari mudahnya kita berpikir negatif adalah sulitnya kita
menerima pendapat orang lain, sulit menerima hal baru, sulit bersosialisasi, dan sering muncul sebagai pribadi yang kurang menarik untuk diajak kerjasama. Jika Anda merasa mudah berpikir negatif, maka persulitlah kemunculannya.

2. Rasa Malas

Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Rasa malas menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, jika Anda ingin maju, persulit kemunculan kemalasan itu.

3. Kemarahan

Kemarahan adalah tumpahan perasaan atau luapan emosi yang biasanya diikuti dengan egoisme, perasaan jengkel, benci, gusar, kecewa, dan menyalahkan pihak lain. Sejalan dengan rasa marah ini, maka seseorang yang mengalaminya akan mudah sekali kehilangan akal sehat dan kontrol diri. Seorang berkepribadian reaktif, impulsif, dan berpola pikir negatif akan cenderung mudah kehilangan kendali atas perasaannya. Akibatnya bila bentuk perasaan itu adalah kemarahan, maka yang bersangkutan bisa nampak seperti orang yang kehilangan kepribadian.

Kemarahan selalu berdampak negatif bagi siapa pun di sekitar orang itu. Apalagi jika perwujudannya mengarah ke pelampiasan secara fisik. Bad temper bisa menjadi penyakit kejiwaan yang kronis dan berbhaya. Dampak negatif dari mudahnya rasa marah muncul ke permukaan adalah buruknya relasi orang bersangkutan. Beberapa orang dengan kematangan
pribadinya mampu mengelola rasa marah secara positif. Namun kebanyakan orang sulit mengendalikan rasa marahnya. Oleh sebab itu, jika ingin sukses dalam relasi pribadi dan sosial, persulitlah munculnya rasa marah berlebihan.

4. Kecerobohan

Kecerobohan sma artinya dengan kekurangwaspadaan atau kelalaian. Kecerobohan adalah simbol ketidakmatangan pribadi. Ini merupakan sikap atau perilaku yang berbahaya sekali. Terutama jika seseorang berada di titik-titik kritis dan sangat menentukan dalam perjalanan hidupnya, dan pada saat yang sama dirinya harus mengambil keputusan atau menentukan pilihan. Kecerobohan mudah muncul jika seseorang malas belajar dari pengalaman, enggan mendengar nasihat orang yang kompeten, dan mudah muncul pula karena seseorang memiliki perasaan sombong atau egoisme. Pribadi yang efektif akan berusaha semaksimal mungkin menghindari sikap lalai atau ceroboh. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kebiasaan menimbang atau memperhitungkan segala aspek dengan cermat, teliti, fokus, dan terkonsentrasi. Jika ingin memperkecil kegagalan atau penyesalan, maka persulitlah munculnya sikap ceroboh.

5. Rasa Takut

Rasa takut adalah penyakit kronis yang juga sangat merugikan. Rasa takut biasanya muncul jika seseorang kurang memahami suatu persoalan, kurang mendapat informasi, tidak terbiasa bersikap praktis, atau memang karena penyakit-penyakit psikologis seperti trauma masa lalu.
Rasa takut yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman, informasi, atau kurangnya kebiasaan bertindak relatif mudah diatasi. Tetapi rasa takut akibat trauma memang tidak mudah dihilangkan. Walau begitu, menghilangkan rasa takut benar-benar bisa dilatih. Orang bisa karena terbiasa. Demikian juga orang bisa berani karena terbiasa. Jika ingin menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan berani, persulitlah munculnya rasa takut.

Nah, Anda bisa memperpanjang sendiri daftar hal-hal atau kebiasaan negatif yang memang harus dipersulit kemunculannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bukan sekedar dipersulit. Jika memungkinkan, enyahkanlah hal-hal negatif tersebut. Kehidupan yang lebih efektif dan bermanfaat sudah pasti bisa dinikmati. Selamat mempersulit hal-hal yang tidak perlu dipermudah!

Sumber: Kalau Bisa Dipersulit Mengapa Dipermudah? oleh Edy Zaqeus

08 April 2011

Jangan Takut Menyampaikan Ide

Mengungkapkan ide dan gagasan adalah bagian penting dari aktivitas anda dalam bekerja. Bahkan tak jarang dari sebuah ide, seseorang berhasil meraih kesuksesan. Namun masalahnya, tidak semua orang dapat mengungkapkan idenya dengan mudah. Sebagian orang justru merasa sangat sulit mengungkapkannya, sekalipun semua sudah tersusun di otak.

Pada dasarnya mereka yang kesulitan mengeluarkan idenya adalah orang-orang yang kurang 'pede' alias kurang percaya diri. Padahal kalau anda yakin bahwa ide-ide anda cemerlang, jangan ragu menyatakannya. Tetapi tentu saja dalam menyampaikan ide, ada aturan tersendiri.

Karena seringkali terjadi kesalahan yang cukup fatal akibat ide yang dilontarkan. Ironisnya, kesalahan bukan dari isi ide itu melainkan karena kekurangan dalam mengemas penyampaian ide tersebut.

Kalau anda termasuk orang yang kurang pede dalam mengeluarkan ide dan pengin tau aturan mainnya, coba deh tips berikut ini:

*Pertama yakinlah bahwa ide yang akan anda sampaikan memang cemerlang. Jangan berpikir bahwa pendengar ide anda adalah orang-orang yang lebih tahu dari anda, karena hanya akan membuat anda minder. Sebelumnya, kuasai topik atau masalah yang berkaitan dengan ide anda. Sehingga jika ada pertanyaan, anda mudah menjawabnya.

*Kendalikan emosi anda dengan baik, hilangkan semua ketegangan dalam diri anda. Semakin tenang, anda akan semakin menguasai diri dan mudah menyampaikan ide.

*Kemudian sampaikan ide anda saat orang-orang siap mendengarkan. Sehingga mereka bisa menyimak ide anda dengan baik.

*Ungkapkan ide-ide anda dengan penuh percaya diri, dengan kalimat-kalimat yang tertata baik. Tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu rumit, karena ukuran ‘canggih’nya ide anda bukan dari tingkat kerumitan kalimat atau bahasa. Sebaliknya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, akan memudahkan penyerapan ide anda. Toh dengan kalimat sederhana tidak akan mengurangi bobot ide anda.

*Jangan sekalipun menunjukkan kesan ragu-ragu atau takut. Tetapi juga jangan terlalu berapi-api, karena hanya akan mengesankan anda terlalu emosionil. Pusatkan konsentrasi ketika anda tengah melontarkan ide sampai anda selesai .

*Kalau sudah selesai tariklah napas anda dalam-dalam, dan anda siap mendengar dan menjawab pertanyaan rekan-rekan anda atas ide tersebut.

Dengan tips di atas, mudah-mudahan, anda nggak ragu lagi mengungkapkan ide, siapa tau setelah itu ide anda malah bertambah. Selamat beride ria!
(sumber:GCM/Astaga-GloriaNet)

Ingin Karir dan Keluarga Sukses, Ingat Komitmen Awal...

Ini bukan pepesan kosong. Carut marutnya permasalahan bangsa saat ini diakui bermuasal dari komunitas terkecil yang ada di masyarakat, yaitu keluarga. Hal ini tercermin dari rendahnya kepedulian dan komitmen tentang kualitas sebuah keluarga. Bahkan keluarga sebagai salah satu elemen bangsa, sudah mengidap infantilisme dan psikopati yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan efektif normal dan selalu menjadi problem bagi yang lain.

Apalagi sudah menjadi rahasia umum cukup banyak eksekutif maupun sosok publik yang karirnya cemerlang, tapi keluarganya 'banyak', tidak harmonis. Ada kasus PIL atau WIL.

Dan tampaknya pemerintah menganggap permasalahan ini sudah sangat serius. Buktinya, menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni nanti, 'peringatan' yang disampaikan lumayan menyeramkan. Alhasil, solusi yang ditawarkan tak ada pilihan lain kecuali: Back to basic. Kembali ke keluarga.

Semudah itukah? Tedy Fardiansyah, pengamat investasi, menilai keputusan untuk menciptakan karir yan bagus dan keluarga yang harmonis kerap menimbulkan ekses menyimpang. Tapi menyikapi ekses tersebut akan tergantung kepada masing-masing individu.

Sebagai pribadi yang sering bertemu banyak orang dari berbagai kalangan, eksekutif itu menyadari dirinya harus menyebar jejaring. Sedangkan network merupakan investasi yang paling berharga dan dampaknya bisa dirasakan di masa depan. Karena itu Tedy tidak membedakan gender dalam membentuk network tersebut.

Namun Tedy memiliki kiat agar karir dan keluarga bisa berjalan seimbang. Resepnya, kembali pada komitmen awal ketika menikah yakni ingin membentuk keluarga sesuai yang digariskan agama. "Untuk itu, saya tidak membenarkan untuk diri saya sendiri untuk melakukan hubungan khusus dengan lawan jenis."

Sebagai kepala rumahtangga, ia tidak hanya bertanggungjawab terhadap kebutuhan materi saja, tapi juga harus memberikan rasa aman bagi istri dan anak-anaknya.

Kiat untuk menghindari terjadinya hubungan dengan WIL juga penting. Misalnya dengan membangkitkan empati sendiri, tentang bagaimana nasib istri dan anak-anaknya apabila melakukan hubungan seperti itu.

Dia tidak menampik PIL dan WIL sudah menjadi fenomena umum. Tapi Tedy yakin betul di masyarakat masih tetap ada norma dan norma itu tidak luntur. "Norma masih belum luntur. Hanya kondisinya terpulang kepada masing-masing orang."

Rumahku surgaku. Inilah yang 'diusung' pesohor super sibuk seperti Ikang Fawzi.
Pria yang menikahi artis cantik Marissa Haque pada 12 April 1987 ini, selalu merindukan rumah, tempatnya berbagi kasih sayang dengan kedua putrinya yang sudah beranjak remaja dan istri tercintanya.

Ibarat oksigen

Ketergantungannya pada keluarga yang sangat kuat membuat Ikang menghargai pentingnya kasih sayang keluarga untuk mendukung kariernya.

Bahkan bagi wakil ketua DPD REI DKI Jakarta ini, istri dan buah hatinya diibaratkan seperti oksigen untuk hidupnya."Saya katakan pada mereka [istri dan anak-anaknya], kalau saya membutuhkan mereka. Saya tidak bisa tegar tanpa mereka,"ujar aktor bernama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi ini.

Lebih dari segalanya, Ikang yang juga Wakil Ketua Promosi Bisnis KADIN Pusat ini bersandar pada agama untuk mengokohkan fondasi rumah tangganya. Disinggung tentang PIL atau WIL, ia berujar, "Saya takut Tuhan. Icha [Marissa Haque] juga takut Tuhan. Dan kami saling percaya."

Kepergian Icha selama tiga tahun ke AS untuk bersekolah sebenarnya bisa menjadi kesempatan besar timbulnya perselingkuhan. Tapi, sekali lagi Ikang bersyukur. "Allah sayang sama saya. Tiap hari saya minta tolong pada Tuhan. Allah tidak pernah tidur."

Selain bersandar pada agama, kedekatan dengan keluarga tampaknya ingin selalu dipupuk olehnya."Saya ingin anak-anak memandang saya sebagai teman mereka, hanya saja saya punya pengalaman yang lebih baik, karena lahir duluan," tuturnya.

Namun artis ini tidak ingin menghakimi eksekutif yang terjebak tren 'selingkuh itu indah'. Kalau itu terjadi, kata Ikang, ibarat rumahnya istana, tapi isinya air mata. Rumah itu pabrik. Dan keluarga adalah produknya. "Kalau pabrik baik dan bersih, tentu produknya juga baik," tutur putra diplomat ini.

Prinsip serupa agaknya dijalankan juga oleh Harry Pontoh, wakil Sekjen Asosiasi Advokat Indonesia (AAI). Yang penting karir dan keluarga harus seimbang. Salah besar bila salah satu dikorbankan."Satu sama lain tidak dipisahkan, harus seiring sejalan,"
katanya.

Meskipun sedikit, waktu harus tetap diberikan kepada keluarga. Tak jarang mantan wartawan ini mengerjakan tugas di rumah pada hari libur meski terganggu oleh suasana rumah. "Tapi bagi saya nggak masalah karena komitmen saya sudah seperti itu."

Menyinggung keretakan keluarga akibat perselingkuhan, menurut Harry hal itu tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Akar permasalahan harus diketahui terlebih dahulu.

"Ada faktor penentu. Misalnya, dia tidak mendapat kebahagian dari keluarga sehingga mencari konpensasi. Tapi apapun namanya, bahwa orang tersebut memang tidak mampu membangun kualitas keluarganya," paparnya.

Mungkin karena itu pula Iis Dahlia, penyanyi dangdut dan ibu dua anak ini, kini sangat hati-hati menjaga bahtera perkawinannya setelah sempat kandas dengan Dadang Indrajaya yang dinikahinya lima tahun.

Sudah dua tahun terakhir ini artis sinetron itu membina rumahtangga keduanya dengan Satrio Dewantoro, seorang pilot.

Sebelum menikah, kata Iis, dia dan pasangannya membuat komitmen. Ada batas rambu-rambu yang bisa dilanggar dan dimaafkan. Ada pula yang tidak bisa dimaafkan.

Kejadian dengan suami pertamanya yang membuahkan seorang anak perempuan, Salshadilla Juwita Indrajaya, disebutkan karena sang suami melanggar rambu-rambu yang tak bisa dimaafkan. Akhirnya Iis pun memilih berpisah dengan segala risikonya.

"Percuma tetap mempertahankan perkawinan kalau hati kita sudah tidak sreg dengan pasangan. Lebih baik berpisah. Bagi saya itu jalan terbaik," tandasnya.

Selama dua tahun menjanda, berbagai godaan kerap muncul sampai akhirnya ada seorang pria yang benar-benar serius ingin hidup bersamanya.

"Setelah melalui proses dan menyetujui komitmen yang aku mau bila kami nanti menikah, akhirnya saya menerima dia. Dan sampai sekarang hidup kami bahagia, apalagi setelah melahirkan Devano," ujar perempuan kelahiran Indramayu 29 Mei 1972 ini.

Kini Iis disiplin membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Dalam sebulan dia bisa manggung sampai 15 kali, baik di Jakarta maupun daerah. Bila ada order menyanyi malam hari, dari pagi sampai siang diisi bersama suami dan anak. "Bila suami saya tidak terbang, kalau dapat order di luar kota biasanya saya tolak. Kami ingin bersama selalu. Dia kan suka terbang sampai berhari-hari."

Begitu juga saat libur besar, selalu berembuk dengan suami dan anaknya kemana ingin pergi.

Setali tiga uang dengan Nurul Qomaril Arifin yang menganggap keluarga adalah segalanya. Untuk itu, harus pandai-pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Misalnya ketika masih aktif syuting sinetron dan film, dia batasi sampai jam 22.00. “Paling lambat jam 10 malam aku sudah di rumah," ujar perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 ini.

Setiap pagi seperti ibu rumahtangga lainnya, Nurul juga menyiapkan sarapan sekeluarga, dan bekal dua orang anaknya ke sekolah. "Saya berupaya bekerja seperti pekerja kantoran, dari pagi sampai sore."

(Sumber: Bisnis Indonesia - 27/6/2004)

04 April 2011

ENAM PERSOALAN HIDUP

oleh: Al-Ghazali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan
murid-muridnya. Lalu Imam AlGhozali bertanya,
pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di
dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru,
teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua
jawapan itu benar. Tetapi yang
paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab itu
sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa
pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan,
matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali
menjelaskan bahwa semua jawapan yang mereka berikan
adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa
lalu". Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap
kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu
kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan
datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran
Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang
ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan
matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali.
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini
adalah "nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus
hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu
membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di
dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawapan
hampir benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling
berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua
tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk
menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi
permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia
masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang
amanahnya.

Pertanyaan
yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia
ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling
ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat.
Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara
meetingkita tinggalkan sholat.

Lantas
pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di
dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang...
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah
"lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia
dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan
saudaranya sendiri.