Biasanya orang-orang yang memiliki pribadi asosial di kantor memiliki rasa percaya diri yang sangat 'luar biasa'. Tanpa perlu terlibat dengan orang lain, mereka merasa tetap bisa bertahan. Satu hal yang membuat mereka memiliki pribadi demikian adalah karena mereka merasa lebih dari orang lain dan merasa tidak ada satu orangpun yang menandingi kelebihannya.
Celakanya, meski mereka tidak suka bersosialisasi, mereka ingin mendapat pengakuan dari orang-orang di sekelilingnya. Makanya jika ada orang lain yang memuji dan menyanjungnya, ia merasa sangat bangga dan semakin pede. Sebaliknya, jika ia sadar ada yang melebihi kemampuannya ia akan menganggap orang itu sebagai musuh sejatinya. Nggak heran jika akhirnya orang-orang seperti ini hanya akan menjadi 'public enemy' alias musuh semua orang. Tak ada satu orang pun yang merasa nyaman terlibat dengannya. Sulitnya, si 'public enemy' akan menganggap orang-orang yang tidak menyukainya sebagai orang-orang yang masuk dalam barisan orang yang 'sirik' terhadapnya. Repot kan?
Sekarang, masalahnya bagaimana jika tiba-tiba si public enemy itu menjadi bagian dari tim kerja Anda? Atau bagaimana jika ia langsung ditempatkan sebagai bos atau head di divisi Anda? Mau nggak mau tentu Anda harus bekerjasama dengannya bukan? Menurut John Brinkerhoff dalam bukunya Commonse Rules for The Office, seorang musuh sekalipun sekaliber 'public enemy' tetap harus dihadapi secara profesional! Anda tidak bisa menghindarinya begitu saja dengan alasan tidak mau terjadi konflik. Sebaliknya, Anda pun tidak bisa menghadapinya dengan 'genderang perang' seolah Anda ingin membantai dan menaklukkannya.
Sekali lagi, Anda harus menghadapinya secara profesional sesuai tingkat intelektualitas dan kematangan emosional Anda. Berikut adalah saran dari Brikerhoff dalam menghadapi public enemy tanpa membahayakan 'pertahanan' Anda:
* Jangan terjebak dalam negosiasi
Negosiasi adalah hal umum dalam dunia kerja. Jika si 'public enemy' menegosiasikan suatu pekerjaan dengan Anda, simak dengan baik. Apa keinginannya tetapi bukan berarti Anda harus setuju dengan negosiasinya. Ingat, jika musuh Anda piawai dalam berbegosiasi Anda bisa terperangkap dalam jebakannya. Bersikaplah lebih hati-hati dan cermat dalam menghadapi setiap tindakannya pada Anda. Pikirkan dampak negatif dan positif dari negosiasi yang dilakukannya.
* Be professional
Seberapapun tidak sukanya Anda pada si enemy, jangan menghadapinya secara subyektif. Berusahalah se-objektif mungkin menghadapi urusan pekerjaan yang berhubungan dengannya. Sebaliknya, jangan sekalipun menaruh belas kasihan jika ia gagal. Tetapi bukan berarti Anda bisa tertawa di atas kegagalannya. Jika ia butuh kontribusi Anda, berikanlah sesuai kapasitas Anda.
* Fokus pada reputasinya
Coba perhatikan reputasi si public enemy selama ini. Apakah ia seorang pekerja yang cukup handal, kreatif dan brilliant? Atau sebaliknya, apakah ia seorang yang culas, suka mencuri ide, dan pemalas? Berikan penilaian yang benar-benar valid terhadapnya. Jika atasan meminta kesaksian Anda terhadap reputasinya, katakan saja sejujurnya, tidak lebih dan tidak kurang.
* Be a good worker
Bekerjalah dengan sebaik-baiknya dan seprofesional mungkin. Tingkatkan terus kemampuan dan keahlian Anda. Serta jangan lupa untuk membina hubungan baik dengan rekan sejawat dan atasan. Sehingga tidak ada satu hal burukpun yang dapat si enemy temui pada diri Anda. Hal ini akan menyulitkan dia jika ia ingin menjatuhkan nama baik Anda di kantor. Karena faktalah yang akan membuktikan.
Nah kini nggak perlu pusing lagi deh menghadapi si 'public enemy' di kantor. Percaya deh, cara-cara di atas cukup aman kok bagi Anda. Atau Anda punya cara lain? (Sumber:GloriaNet-GCM/Astaga,tri)

0 comments:
Posting Komentar