12 Juni 2011

PEMBELI ISTIMEWA

Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang

peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli

manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai). Bukan

main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana

di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia

membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu

kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, "Tunggu, biarkan

saya yang menyerahkannya". Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan

itu kepada si pengemis.

Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari

tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, "Terima kasih atas

kunjungan anda".

Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko,

"Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum

pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan

kasirlah yang melayani pembeli".

Si pemilik toko itu berkata, "Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya

kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku

ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah

pelanggan biasa, namun kali ini lain."

"Mengapa lain," tanya pelayan.

"Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli

kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah

begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi

mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat panting baginya. Karena

itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah

mengapa aku melayaninya", demikian penjelasan sang pemilik toko.

~~~

Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka

itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak

mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah

ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan.

Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus

meletakkan nilainya.

by Konosuke Matsushita
Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food For Thought, dari buku
Etos Bisnis dan Etika Manajemen)

0 comments: