Rekan kerja bau badan, bukan hal aneh dan senantiasa hadir di lingkungan kerja. Padahal penampilan dan dandanannya cukup meyakinkan. Aroma minyak wanginya tak bisa menangkis bau badan yang memang keluar dari tubuhnya. Anda mungkin bertanya, kurang mandikah? Tidak seluruhnya benar, mungkin saja keringat berlebihan atau kelainan yang dideritanya meski sudah diatasi dengan berbagai cara.
Sungguh mengganggu, bukan? Hm ... sangat sulit memang untuk menegur atau memberitahu seseorang yang kebetulan memiliki bau badan. Bahkan, ketika itu juga dikeluhkan eksekutif asing yang bekerja di sini, padahal budaya mereka sangat lugas dibanding budaya kita yang selalu menjaga perasaan orang apalagi bila mengancam produktivitas kerja rekan tersebut.
Persoalan pokok di sini adalah komunikasi. Bagaimana ‘mengirimkan’ berita tak enak itu secara efektif. Padahal, kalau dipikir, yang bersangkutan pun membutuhkan umpan balik dari sekitarnya. Jadi, secara logika, kedua belah pihak membutuhkan perbaikan atau penyembuhan. Yang menghambat adalah rasa ingin menjaga perasaan. Betapa mahalnya menjaga perasaan itu.
Bagaimana cara menyingkirkan perasaan itu? Hanya satu motivasi, yaitu rasa ingin ‘menyembuhkan’ rekan kerja tersebut. Ya, caranya bagaimana? Kalau saya jadi Anda misalnya, dalam kesempatan informal suasana yang enak, dengan tulus saya akan berkata,”Non atau Mba, ada satu saja yang saya ingin katakan pada Anda, asalkan menerimanya positif, oke?”
Mungkin ia akan bertanya dengan deg-degan, “Ada apa sih?” Lalu saya pun akan berkata dengan berani dan tulus pula,”Non atau Mba, Anda akan lebih segar kalau pakai Purol atau Rexona setiap hari. Saya juga dulu begitu (di sini Anda mungkin ‘kreatif’), dengan mengatakan diserang bakteri pengganggu kulit. Jadi, setiap habis mandi pagi dan malam Anda terus pakai Purol atau Rexona misalnya. Lalu Anda bisa teruskan,”Memang kulit setiap orang bisa berbeda, sehingga membutuhkan perawatan yang berbeda pula”.
Sampai di situ mungkin rekan kerja Anda itu mulai sadar, bahkan ada rasa malu. Anda tak perlu risau, karena ia merasa senasib dengan Anda. Anda harus berempati dengannya. Hindari kata-kata yang ‘mempermalukannya’ seperti, ”Kamu bau badan sangat menyegat, mengganggu pekerjaan”. Gunakan kata-kata yang lebih positif misalnya bakteri pengganggu kulit, kesegaran kulit atau mulut, perawatan kulit dan lain-lain.
Dialog tentang perawatan kulit bukan monopoli seorang dokter atau ahli kecantikan. Siapa pun berhak berbicara perawatan kulit. Dan, apa pun baunya, umumnya disebabkan bakteri pengganggu. Jadi, Anda akan aman bicara soal bakteri penyebab masalah kulit daripada berbicara soal bau badan akibat dari serangkaian bakteri itu.
Nah, bagaimana dengan rekan kerja Anda di kantor? Serupakah atau jauh dari urusan bau-bau? Bila ada, artikel di atas sangat menarik bagi Anda. Semoga bermanfaat! (Sumber:GloriaNet-GCM/SW)

0 comments:
Posting Komentar