Manajemen, janganlah seperti kelas-kelas di sekolah dasar, dimana selama Anda hadir terus dan tidak menganggu kelas serta berusaha belajar dengan baik, Anda akan mendapat angka untuk naik kelas. Adalah penting sejak awal untuk peduli, untuk terus memberikan segenap yang Anda miliki saat Anda memutuskan berkarir.
Loyalitas dan pengabdian sudah tentu merupakan sikap yang dikagumi. Bekerja keras dan lama sudah pasti dihargai dan diberi ganjaran. Tetapi, bagaimanapun, soalnya adalah: tak peduli betapapun kerasnya Anda bekerja, yang penting adalah hasilnya.
Sudah terlalu sering kita cenderung memaafkan atau melupakan hasil yang buruk atau kegagalan karena terkecoh oleh kerajinan yang diperagakan seseorang serta waktu, upaya, keringat, dan ego yang diinvestasikan dalam proyek yang gagal. Kita mengumbar kekaguman kita akan jerih payah seseorang dan membiarkan kesadaran kita menimbang-nimbang beratnya tugas yang diemban seseorang, sehingga semua itu menyelimuti dan membutakan penilaian kita terhadap hasil-hasil yang buruk dan sebab-sebab kegagalan.
Sudah barang tentu, kita memang seharusnya menyadari adanya penugasan yang tak mungkin dilaksanakan atau adanya tantangan yang sangat berat yang menyebabkan kegagalan hampir pasti terjadi. Jika demikian, jerih payah memang harus dihargai dan hasil yang buruk dievaluasi, tetapi bukan berarti harus mempertahankan kedudukan si individu atau tim. Seharusnya, paling tidak hampir mencapai target saja mungkin merupakan sesuatu yang bisa diharapkan, mengingat situasi-situasi dan faktor-faktor yang berada di luar kekuasaan yang mungkin timbul.
Dalam kebanyakan keadaan, permasalahan, dan proyek, para supervisor dan para penilai hendaknya mementingkan hasil yang dicapai. Harus ada penilaian mengapa berhasil atau mengapa sekarang gagal, tidak seperti yang direncanakan. Harus ada suatu strategi untuk memperbaiki kinerja masa mendatang. Misalnya, mungkin saja asumsi-asumsi perencanaan kita tidak akurat atau terlalu optimistik. Bisa juga, kinerja dan hasilnya untuk satu dan lain alasan mungkin tidak mencapai tahap yang seharusnya.
Jadi, jelaslah bahwa kita ingin belajar dari kegagalan kita (dan keberhasilan kita) untuk memperbaiki perencanaan kita, untuk memperbaiki pemilihan tim yang mengerjakan proyek, untuk memperbaiki pelatihan individu dan tim proyeknya, untuk memperbaiki teknik-teknik implementasinya dan seterusnya.
Organisasi hendaknya tidak mendorong adanya penghematan dan penggunaan praktek yang buruk dan kotor agar tercapai sukses internal maupun eksternal. Dalam organisasi, kita memang ingin menghidupkan suatu perasaan tetap bekerja keras, dengan penuh pengabdian, untuk mencapai tujuan. Tetapi, apa yang seharusnya mendapat perhatian dan penghargaan lebih banyak ketimbang seberapa besar seseorang berusaha dan seberapa baik seseorang berlomba untuk mencapai sukses, adalah apakah orang itu mencapai garis finis dan mencapai tujuannya.(sumber:GloriaNet)
Loyalitas dan pengabdian sudah tentu merupakan sikap yang dikagumi. Bekerja keras dan lama sudah pasti dihargai dan diberi ganjaran. Tetapi, bagaimanapun, soalnya adalah: tak peduli betapapun kerasnya Anda bekerja, yang penting adalah hasilnya.
Sudah terlalu sering kita cenderung memaafkan atau melupakan hasil yang buruk atau kegagalan karena terkecoh oleh kerajinan yang diperagakan seseorang serta waktu, upaya, keringat, dan ego yang diinvestasikan dalam proyek yang gagal. Kita mengumbar kekaguman kita akan jerih payah seseorang dan membiarkan kesadaran kita menimbang-nimbang beratnya tugas yang diemban seseorang, sehingga semua itu menyelimuti dan membutakan penilaian kita terhadap hasil-hasil yang buruk dan sebab-sebab kegagalan.
Sudah barang tentu, kita memang seharusnya menyadari adanya penugasan yang tak mungkin dilaksanakan atau adanya tantangan yang sangat berat yang menyebabkan kegagalan hampir pasti terjadi. Jika demikian, jerih payah memang harus dihargai dan hasil yang buruk dievaluasi, tetapi bukan berarti harus mempertahankan kedudukan si individu atau tim. Seharusnya, paling tidak hampir mencapai target saja mungkin merupakan sesuatu yang bisa diharapkan, mengingat situasi-situasi dan faktor-faktor yang berada di luar kekuasaan yang mungkin timbul.
Dalam kebanyakan keadaan, permasalahan, dan proyek, para supervisor dan para penilai hendaknya mementingkan hasil yang dicapai. Harus ada penilaian mengapa berhasil atau mengapa sekarang gagal, tidak seperti yang direncanakan. Harus ada suatu strategi untuk memperbaiki kinerja masa mendatang. Misalnya, mungkin saja asumsi-asumsi perencanaan kita tidak akurat atau terlalu optimistik. Bisa juga, kinerja dan hasilnya untuk satu dan lain alasan mungkin tidak mencapai tahap yang seharusnya.
Jadi, jelaslah bahwa kita ingin belajar dari kegagalan kita (dan keberhasilan kita) untuk memperbaiki perencanaan kita, untuk memperbaiki pemilihan tim yang mengerjakan proyek, untuk memperbaiki pelatihan individu dan tim proyeknya, untuk memperbaiki teknik-teknik implementasinya dan seterusnya.
Organisasi hendaknya tidak mendorong adanya penghematan dan penggunaan praktek yang buruk dan kotor agar tercapai sukses internal maupun eksternal. Dalam organisasi, kita memang ingin menghidupkan suatu perasaan tetap bekerja keras, dengan penuh pengabdian, untuk mencapai tujuan. Tetapi, apa yang seharusnya mendapat perhatian dan penghargaan lebih banyak ketimbang seberapa besar seseorang berusaha dan seberapa baik seseorang berlomba untuk mencapai sukses, adalah apakah orang itu mencapai garis finis dan mencapai tujuannya.(sumber:GloriaNet)
